Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

Manaqib Terong

Tinggalkan komentar

Oleh : Dinda Karenina

Santriwati Ponpes Minhajut Tholabah

“Sesunguhnya mendekatkan diri pada Allah swt adalah seagung-agungnya derajat”.  Qoul tersebut agaknya menjadi latar belakang diadakannya rutinan manaqib pada setiap malam Jum’at Wage di Yayasan Pedidikan Islam Minhajut Tholabah.

Semua manusia, khususnya kaum muslimin pasti ingin mendapatkan tempat yang dekat dengan Alloh swt, tak terkecuali para santri asuhan Abah KH. Anwar Idris. Rutinan ini kerap disebut “manaqiban terong”, unik memang. Terlepas dari kata manaqib yang notabenenya berasal dari bahasa arab dan terong yang sejatinya adalah nama sayur-sayuran. Manaqiban terong pada setiap malam Jum’at Wage merupakan momentum yang paling ditunggu diantara malam Jum’at lainnya.

Kedekatan maqom (tempat/derajat) dengan Alloh SWT adalah hal yang sangat istimewa dan harus dicapai dengan jalan yang istimewa pula. Dengan lantaran tawashul-tawashul yang dibaca oleh para ahlu bait dan asatidz, dengan berbagai do’a yang diamini serentak para santri memohon supaya dimudahkan perjalanan dalam tholabul ’ilmi.

Seperti sebuah permohonan pada kitab manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

“Jadikanlah penolong kami untuk medapatkan yang kami minta, memudahkan yang kami kehendak, menyemangatkan tujuan kami, menyelamatkan dari perkara yang kami takutkan, menutup catatan-catatan kami, membayar semua hutang-hutang kami, menguatkan sangka baik kami, menghilangkan tabir-tabir uang menggelapkan kami, kebaikan pada akhir hidup kami, melenyapkan segala kesedihan kami dan pengampun segala dosa-dosa kami.

Wahai hamba-hamba Alloh, wali-wali Alloh tologlah kami karena Alloh. Jadikanlah kalian penolong kami karena Alloh. Semoga tercapai hajt karena anugerah Alloh”.

Manaqiban terong setiap malam Jum’at Wage merupakan sebuah investasi ukhrowi yang agung. Dihadiri oleh para ahlu bait, asatidz bahkan perangkat desa, para santri terlihat tenang tanpa gelisah, terlebih ketika group sholawat “Miftahus syafa’at” mulai menunjukan kebolehannya menjadi pembuka acara yang mulia tersebut.

Mungkin banyak yang bertanya, mengapa nama acara rutinan tersebut adalah manaqiban terong?

Terong adalah sebuah menu pemungkas acara. Masing-masing kelompok dibagikan satu nampan berisi menu khas manaqiban yaitu: nasi, terong bakar dan menu pelengkap (kerupuk atau telur ayam). Kenikmatan dalam kesederhanaan menjadi hal yang menghangatkan. Para santri dengan gembira karena bisa merasakan kehangatan bersama-sama melahap menu-menu khas setiap malam Jum’at Wage ini.

Penulis menghubungkan terong dengan kata sederhana atau apa adanya. Begitu pula manusia terpilih yang bermaqom tinggi pun dekat dengan Gusti Yang Esa, adalah manusia yang berpribadi sederhana dan zuhud.

Acara manaqiban yang diakhiri dengan makan bersama, menu khas terong adalah acara yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada satu-satunya ILLAH di jagad raya ini. Menu sederhana bisa juga menggambarkan kesederhanaan hidup, agar lebih taqorrub ila-Alloh. Besar harapan semoga acara yang mulia ini dapat selalu dilaksanakan secara istiqomah dan kedekatan dengan Alloh dapat terealisasi secara perlahan-lahan.

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s