Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

HISAB AWAL WAKTU SHOLAT

Tinggalkan komentar

sesuai dengan firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. maka sesungguhnya waktu sholat selain menggunakan tanda-tanda alam, dapat pula diketahui melalui hisab atau perhitungan. dalam ilmu falak waktu sholat ini dapat diperhitungkan melalui hisab awal waktu sholat dengan berbagai macam hisab.

  1. Dasar Hukum Waktu Shalat

Untuk memulai pembahasan mengenai waktu shalat, perlu kita ketahui apa itu shalat. Shalat adalah ibadah yang terdiri dari rukun qauli dan rukun amali yang dimulai dengan takbiratul ihram dan di akhiri dengan salam. Shalat merupakan ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah SWT dan perintahnya disampaikan secara langsung tanpa melalui perantara, tidak seperti ibadah yang lainnya. Shalat juga merupakan ibadah yang pertama kali akan dihisab sebelum ibadah-ibadah yang lain. Untuk lebih memperjelas mengenai perintah sholat, terlebih dahulu akan dipaparkan dalil-dalil dari Al-Qur’an  dan hadis yang memberi gambaran tentang waktu-waktu shalat.

a). Sumber Al – Quran

Surah An-Nisa (4): 103

#sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4 #sŒÎ*sù öNçGYtRù’yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# 4 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

Artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

Ayat tersebut turun ketika Rasulullah mengutus satu pasukan tentara untuk menyusul Abu Sofyan dan anak buahnya ketika kembali dari perang uhud. Mereka mengeluh karena menderita luka-luka. Ayat ini menjelaskan bahwa shalat merupakan suatu fardhu (yang ditetapkan waktunya), dan larangan untuk mengundur atau menangguhkan mengerjakannya.

Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya, Al-Misbah mengemukakan bahwa kata موقوتا merupakan jamak dari kata dari kata وقت. Secara etimologi kata ini digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Setiap shalat mempunyai waktu, dalam arti ada masa dimana seseorang harus menyelesaikannya. Apabila waktu itu berlalu maka pada dasarnya berlalu juga waktu shalat itu. Ada juga yang memahami kata ini dalam arti kewajiban yang berkesinambungan dan tidak berubah sehingga firmannya melukiskan shalat sebagai كتاباموقوتا  yang berarti shalat adalah kewajiban yang tidak berubah, selalu dilaksanakan dan tidak pernah gugur apapun sebabnya. Pendapat ini dikukuhkan oleh penganutnya dengan berkata bahwa tidak ada alasan dalam konteks pembicaraan disini untuk menyebut shalat dalam keadaan-keadaan tertentu.

Sedangkan menurut Ahmad Mustafa Al-Muragi dalam kitab tafsirnya Al-Muragi menjelaskan tentang ditetapkannya waktu shalat diantaranya karena biasanya suatu perkara yang tidak mempunyai waktu-waktu tertentu tidak diperhatikan oleh banyak orang, disamping itu dzikir yang mendidik jiwa ini mengandung pendidikan amaliah bagi umat Islam karena mereka melaksanakan amal-amalnya di dalam waktu-waktu tertentu tanpa tawar menawar lagi oleh karena itu barang siapa yang melalaikan shalat 5 waktu, maka boleh jadi dia akan lupa kepada Rabbnya dan tenggelam pada lautan kelalaian. Berbeda dengan orang yang beriman kuat dan hatinya bersih, tidak cukup dengan berdzikir dan bermunajat kepada Allah dalam waktu yang sedikit, akan tetapi ia menambahnya dengan shalat-shalat nafilah.

Surah Hud (11): 114

ÉÉOÏ%r&urno4qn=¢Á9$#ǒnûtsÛ͑$pk¨]9$#$Zÿs9ã—urz`ÏiBÈ@øŠ©9$#4¨bÎ)ÏM»uZ|¡ptø:$#tû÷ùÏdõ‹ãƒÏN$t«ÍhŠ¡¡9$#4y7Ï9ºsŒ3“tø.όšúï̍Ï.º©%#Ï9ÇÊÊÍÈ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ayat tersebut diturunkan pada sahabat Abu al-Yusr ‘Amr Bin Ghozyahal-Anshaari, adalah ia seorang penjual buah kurma. Suatu saat datanglah seorang wanita berkehendak membeli kurmanya. “Kurma ini tidak bagus, dirumah ada yang lebih bagus darinya, adakah engkau menginginkannya?” Tanya Abu al-Yusrpd wanita itu. “Ya” Jawab wanita. Maka Abu al-Yusr mengajak wanita tersebut menuju rumahnya. Sesampainya dalam rumah Abu al-Yusr malah memeluk erat dan menciuminya. “Takutlah engkau pada Allah… !!” Jerit wanita. Tersadarlah Abu al-Yusr dan ia melepaskannya. Abu al-Yusr sangat menyesali perbuatannya dan mendatangi Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Tuan atas perbuatan seorang pria yang hendak ‘menodai’ seorang wanita,” tanya Abu al-Yusr. Umar yg ada disitu menyahut “Sungguh Allah telah menutupi aib mu bila engkau menutupi dirimu atas perbuatanmu..!!” Rasulullah tidak memberi jawaban apapun selain berkata “Aku menunggu perintah Tuhanku..”. Saat itu tiba masanya menjalankan shalat ashar, kemudian Nabi mengimami shalat jamaah termasuk Abu al-Yusr. Setelah rampung sholat datanglah malaikat Jibril dengan menurunkan ayat 114 surat Huud. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan lainnya yang bersumber dari AbilYasar.

Dalam riwayat Asy-Syaukani oleh Ibnu Mas’ud disebutkan terkait dengan asbabun nuzul ayat tersebut bahwa seorang laki-laki setelah mencium seorang wanita datang menghadap Rasulullah dan menerangkan peristiwa itu, maka Allah menerangkan ayat ini, yang menegaskan bahwa kejahatan itu dapat diampuni oleh Allah dengan melaksanakan shalat 5 waktu. Kemudian orang itu berkata “Apakah ini hanya berlaku bagi orang sekarang saja?” Nabi menjawab: “Untuk semua ummatku”.

Ayat ini mengandung anjuran untuk  mendirikan shalat dengan teratur dan benar sesuai dengan ketentuan, rukun, syarat dan sunnah-sunnahnya pada kedua tepi siang yakni pagi dan petang, atau Subuh, Dzuhur dan Ashar dan pada bagian permulaan daripada malam yaitu Maghrib dan Isya, dan juga bisa termasuk Witir dan Tahajud. Yang demikian itu dapat menyucikan jiwa dan mengalahkan kecenderungan nafsu untuk berbuat kejahatan. Sesungguhnya kebajikan-kebajikan itu yakni perbuatan-perbuatan baik seperti shalat, zakat, shadakah, istighfar, dan aneka ketaatan lain dapat menghapuskan dosa kecil yang merupakan keburukan-keburukan yakni perbuatan-perbuatan buruk yang tidak mudah dihindari manusia. Adapun dosa besar, maka itu membutuhkan ketulusan hati untuk bertaubat, permohonan ampun secara khusus dan tekad untuk tidak mengulanginya. Iitu yakni petunjuk-petunjuk yang disampaikan sebelum ini yang sungguh tinggi nilainya dan jauh kedudukannya itulah peringatan yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang siap menerimanya dan yang ingat tidak melupakan Allah.

Dalam tafsir at-Tabari dijelaskan bahwa ada beberapa faedah yang dikandung ayat ini adalah penjelasan untuk mendirikan salat wajib. Ayat ini menjelaskan secara ringkas semua waktu shalat yang wajib. Karena kedua tepi siang mencakup shalat subuh, shalat dzuhur dan shalat ashar. Adapun bagian permulaan malam mencakup shalat maghrib dan isya. Namun Imam Ath-Thabari lebih memilih pendapat bahwa bahwa shalat pada kedua tepi siang itu maksudnya adalah shalat subuh dan maghrib.

Ayat ini menjelaskan bahwa shalat termasuk diantara al-hasanat (amal  saleh). Ayat ini juga menjelaskan bahwa al-Quran sebagai mau’izhan (nasihat) bagi mereka yang mengingat-ingat. Orang-orang yang ingat disebut secara khusus disini karena mereka yang mendapat manfaat dari nasihat itu.

Dalam Tafsir Al-Munir diterangkan bahwa ayat ini menjelaskan tentang batasan-batasan waktu shalat yang artinya bahwa shalat harus dilakukan dengan rukun dan syarat yang sempurna agar seseorang terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Lafazh طرافىالنهار berarti dua penghujung siang, meliputi tiga waktu shalat yaitu shalat Shubuh, Dzuhur, dan Ashar. Dan lafadz وزلفامنالليلyang berarti sebagian dari malam meliputi waktu shalat Maghrib dan shalat Isya.

b). Sumber Al – Hadis

سنن الترمذى – (ج 1 / ص 255(

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَيَّاشِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حَكِيمٍ وَهُوَ ابْنُ عَبَّادِ بْنِ حُنَيْفٍ أَخْبَرَنِي نَافِعُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ عَبَّاسٍأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلَّى الظُّهْرَ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا حِينَ كَانَ الْفَيْءُ مِثْلَ الشِّرَاكِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِينَ كَانَ كُلُّ شَيْءٍ مِثْلَ ظِلِّهِ ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ حِينَ وَجَبَتْ الشَّمْسُ وَأَفْطَرَ الصَّائِمُ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ حِينَ بَرَقَ الْفَجْرُ وَحَرُمَ الطَّعَامُ عَلَى الصَّائِمِ وَصَلَّى الْمَرَّةَ الثَّانِيَةَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ لِوَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَيْهِ ثُمَّ صَلَّى الْمَغْرِبَ لِوَقْتِهِ الْأَوَّلِ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ أَسْفَرَتْ الْأَرْضُ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ فِيمَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِقَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَبُرَيْدَةَ وَأَبِي مُوسَى وَأَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ وَأَبِي سَعِيدٍ وَجَابِرٍ وَعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ وَالْبَرَاءِ وَأَنَسٍ أَخْبَرَنِي أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُوسَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ أَخْبَرَنِي وَهْبُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَمَّنِي جِبْرِيلُ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَعْنَاهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ لِوَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ و قَالَ مُحَمَّدٌ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي الْمَوَاقِيتِ حَدِيثُ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَدِيثُ جَابِرٍ فِي الْمَوَاقِيتِ قَدْ رَوَاهُ عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ وَعَمْرُو بْنُ دِينَارٍ وَأَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ حَدِيثِ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

          “Menceritakan kepada kami Hannad bin as-Sariy, menceritakan kepada kami Abdur Rahman bin abi zinaad dari Abdurrahman bin harits bin ‘Ayyasy bin Abi rabi’ah dari hakim bin hakim bin ‘Abbad bin hunaif menceritakan kepadaku Nafi’ bin Jubairbin Muth’im berkata: menceritakan kepadaku Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw, berkata: Jibril pernah mengimamiku di sisi Ka’bah dua kali. Pertama kali, ia shalat zhuhur ketika bayang-bayang seperti tali sandal. Kemudian ia shalat asar ketika bayangan sesuatu seperti benda aslinya. Kemudian shalat maghrib ketika matahari terbenam & orang-orang yg berpuasa berbuka. Kemudian shalat isya ketika warna merah di langit hilang. Setelah itu ia shalat subuh ketika fajar terbit & makanan menjadi haram bagi orang yg berpuasa. Pada kali kedua, ia shalat zhuhur bayangan sesuatu sebagaimana aslinya, persis untuk waktu shalat asar kemarin. Lalu ia shalat asar ketika bayangan setiap sesuatu dua kali dari benda aslinya. Kemudian ia shalat maghrib sebagaimana waktu yg lalu, lalu shalat isya yg akhir ketika telah berlalu sepertiga waktu malam. Kemudian shalat subuh ketika matahari matahari telah merekah menyinari bumi. Setelah itu Jibril menoleh ke arahku seraya berkata; Wahai Muhammad, ini adalah waktu para Nabi sebelummu, & waktu shalat adl antara kedua waktu ini. Abu Isa berkata; Dalam bab ini juga ada riwayat dari Abu Hurairah, Buraidah, Abu Musa, Abu Mas’ud Al Anshari, Abu Sa’id, Jabir, ‘Amru bin Hazm, Al Bara & Anas. Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Musa berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak berkata; telah mengabarkan kepada kami Husain bin Ali bin Husain berkata; telah mengabarkan kepadaku Wahb bin Kaisan dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah , beliau bersabda: Jibril mengimamiku……lalu ia menyebutkan sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas secara makna. Dan ia tak menyebutkan dalam hadits tersebut, Untuk waktu asar seperti yg kemarin. Abu Isa berkata; Hadits ini derajatnya hasan shahih gharib. Dan hadits Ibnu Abbas derajatnya hadits hasan shahih. Muhammad berkata; Riwayat yg paling shahih dalam hal waktu shalat adl hadits Jabir dari Nabi . Ia berkata; Hadits Jabir tentang waktu-waktu shalat telah diriwayatkan oleh ‘Atha bin Abu Rabah & Amru bin Dinar & Abu Az Zubair dari Jabir bin Abdullah dari Nabi , seperti hadits Wahb bin kaisan, dari Jabir, dari Nabi Saw.

  1. Perhitungan Awal Waktu Shalat

Hisab awal waktu shalat adalah hisab yang memperhitungkan kapan dimulai dan berakhirnya shalat yang menjadi kewajiban umat Islam. Secara umum, terdapat beberapa hal yang menjadi faktor dalam hisab awal waktu shalat. Baik berupa data murni maupun data yang diperoleh berdasarkan perhitungan. Diantaranya adalah:

a. Lintang tempat (φ)

Lintang tempat (‘ArdlulBalad) adalah lingkaran yang terdapat pada bola bumi yang sejajar dengan khatulistiwa bumi dan diukur dari khatulistiwa sampai tempat yang dicari,  atau bisa juga dikatakan dengan jarak antara equator sampai garis lintang diukur sepanjang garis bujur. Garis lintang merupakan lingkaran kecil yang terdapat pada bola bumi yang sejajar dengan equator bumi. Garis lintang dibagi menjadi dua bagian yakni garis lintang utara dan garis lintang selatan. Garis lintang utara yaitu garis lintang yang nilainya positif , berada 0o sampai 90o di sebelah utara equator. Garis lintang selatan yaitu garis lintang negatif yang berada 0o sampai 90o di selatan equator.

b.  Bujur tempat (λx)

Garis bujur adalah lingkaran yang terdapat pada bola bumi yang melalui kutub utara dan kutub selatan bumi. Garis bujur merupakan lingkaran besar yang ada di bola bumi yang melalui kutub utara dan kutub selatan. Bujur tempat dihitung dari garis bujur 0o yang berada di Greenwich ditarik melalui garis lintang sampai ketempat yang di cari garis bujurnya. Sebagaimana garis lintang, garis bujur juga terbagi menjadi dua bagian yakni bujur barat dan bujur timur.

Garis bujur barat yaitu garis bujur yang berada 0o sampai 180o di sebelah barat garis bujur Grenwich. Garis bujur barat nilanya negatif sehingga untuk mencari waktu daerah yang berada di sebelah barat GMT harus dikurangi dengan selisih antara waktu keduanya. Sedangkan untuk bujur timur yaitu garis bujur yang berada 0o sampai 180o di sebelah timur Greenwich. Berbeda dengan bujur barat, garis bujur timur nilainya positif sehingga untuk mencari waktu daerah yang berada di timur Greenwich maka waktu GMT ditambah dengan selisih keduanya.

c.  Bujur daerah (λd)

Bujur daerah yaitu garis bujur yang berada di suatu daerah dihitung 15o mulai dari Greenwich. Sehingga garis bujur daerah terbagi menjadi 24 bagian yaitu 0o, 15o, 30o, 45o, 60o, 75o, 90o, 105o, 120o, 135o, 150o, 165o, 180o di sebelah barat Greenwich yang bernilai negatif dan 0o, 15o, 30o, 45o, 60o, 75o, 90o, 105o, 120o, 135o, 150o, 165o, 180o di sebelah timur Greenwich yang bernilai positif.

d. Tinggi Tempat (m)

Tinggi tempat yaitu letak suatu tempat yang dihitung dari permukaan air laut sampai tempat yang bersangkutan. Dalam perhitungan awal waktu salat, tinggi tempat berfungsi untuk mencari kerendahan ufuk (ku). Untuk mendapatkan kerendahan ufuk (ku), dapat menggunakan rumus : ku = 0o 1,76’√ m ( tinggi tempat dinyatakan dalam satuan meter.)

e.  Deklinasi matahari (δ)

Deklinasi matahari yaitu jarak yang dibentuk oleh lintasan matahari dengan khatulistiwa.  Deklinasi bernilai positif jika berada di belahan langit utara dan bernilai negatif jika berada di belahan langit selatan. Saat matahari berada di katulistiwa, nilai deklinasinya adalah 0o yaitu terjadi sekitar tanggal 21 maret dan tanggal 23 september. Sedangkan deklinasi terjauh yaitu 23o 27’ diutara khatulistiwa yang terjadi pada tanggal 21 juni dan berada pada garis balik selatan pada tanggal 22 desember, dst.

f.  Equation of Time (e)

Equation of Time/Ta’dilulwaqti/Ta’diluz zaman atau biasa juga disebut dengan perata waktu yaitu selisih waktu antara waktu matahari hakiki dengan waktu matahari rata-rata (pertengahan). Hal ini terjadi karena eclipse-nya bentuk bumi yang mengakibatkan lama siang dan malam berbeda setiap harinya. Kadang kurang dari 24 jam dan terkadang lebih dari 24 jam.

g. Tinggi Matahari (h)

Tinggi matahari (irtifa’usySyams) yaitu jarak busur sepanjang lingkaran vertical dihitung dari ufuk sampai matahari.   Tinggi matahari bertanda positif jika berada di atas ufuk dan bertanda negatif jika berada di bawah ufuk. Dalam perhitungan waktu salat tinggi matahari merupakan satu unsur yang sangat penting. Hal ini mengingat bahwasnnya cara penentuan awal waktu salat yang termaktub dalam dalil naqli berdasarkan pada peredaran matahari itu sendiri setiap harinya jika dilihat dari bumi.

Dalam menentukan tinggi matahari saat terbit maupun saat terbenam dengan rumus: ho = -(ku + refraksi + semi diameter). Semi diameter matahari rata-rata adalah 0o 16’. Sedangkan untuk menentukan waktu asar terkait erat dengan jarak zenith matahari pada saat matahari berada di bujur langit yang bertepatan dengan datangnya awal waktu dzuhur dengan menggunakan rumus: zm = δo – φx, dengan catatan zm harus selalu positif dan jika negatif maka harus dirubah menjadi positif. Setelah itu, baru menentukan tinggi asar yakni dengan rumus: ha = tgzm + 1. Kemudian tinggi matahari untuk isya’ dengan rumus: ha = -17 + h terbit/ terbenam. Tinggi matahari untuk awal subuh dengan rumus: ha = -19 + h terbit/terbenam serta tinggi matahari untuk awal dluha dengan tinggi 3o 30’ yaitu sesuai dengan ketetapan yang telah menjadi kesepakatan. Meski demikian, ada juga yang menggunakan ketinggian 4o30’ untuk tinggi dluha.

h. Meridian Pass (MP)

Meridian pass yaitu waktu di saat matahari berada di titik kulminasi atas atau tepat di bujur langit menurut waktu pertengahan, yang menurut waktu hakiki saat itu menunjukkan waktu 12 siang. MP dapat dihitung dengan rumus MP = 12 – e, dengan e adalah equation of time.

i. Sudut Waktu Matahari (to)

Sudut waktu matahari adalah busur sepanjang lingkaran harian matahari dihitung dari titik kulminasi atas sampai matahari berada. Harga atau nilai sudut waktu adalah 0o sampai 180o. nilai sudut waktu 0o adalah ketika matahari berada di titik kulminasi atas atau tepat di bujur langit, sedangkan nilai sudut waktu 180o adalah ketika matahari berada di titik kulminasi bawah. Jika matahari berada di sebelah barat bujur atau dibelahan langit sebelah barat maka sudut waktu bertanda positif (asar, maghrib, dan isya’). Sedangkan sudut waktu bertanda negatif jika matahari berada di timur bujur langit atau dibelahan langit sebelah timur (subuh, terbit dan dluha). Sudut waktu dihitung dengan rumus:

Cos to = -tan φxtan δo + sin ho : cos φx : cos δo

j. Ikhtiyat

Ikhtiyat adalah suatu langkah pengaman dalam perhitungan awal waktu salat dengan cara menambah atau mengurang 2 s/d 3 dari hasil perhitungan yang sebenarnya. Ikhtiyat ini dimaksudkan untuk mencakup daerah-daerah sekitarnya, dimanapermenitnya adalah ± 27.5 Km, menjadikan pembulatan pada satuan terkecil dalam menit waktu sehingga penggunaannya lebih mudah, dan juga untuk memberikan koreksi atas kesalahan dalam perhitungan, agar menambah keyakinan bahwa waktu salat benar-benar sudah masuk sehingga ibadah salat itu benar-benar dilaksanakan dalam waktunya.

Dalam penentuan ibadah, hendaknya melakukan ikhtiyat dengan cara membulatkan bilangan detik berapapun menjadi 1 menit, kecuali untuk terbit detik berapapun harus dibuang. Kemudian tambahkan lagi 2 menit, kecuali untuk terbit dikurangi 2 menit, dan untuk dhuhur ditambah 3 menit.

       3. Contoh Perhitungan Waktu Sholat

Tanggal 10 Januari 2013

Tinggi Tempat                   = 86 m

Lintang Tempat (Φ x)         = -6⁰ 59’ 44.94’’

Bujur Tempat (λ x)             = 110⁰ 21’ 09.53’’ Bujur Timur

Deklinasi (δ)                      = -21⁰ 57’ 37.09’’

Equation of time (e)          = -7m  25.21d

Kerendahan Ufuk              = 0⁰ 1’ . 76

Hterbit                                              = -(0⁰ 34’ + 0⁰ 16’ + 0⁰ 16’ 24.97’’)

= -1⁰ 06’ 24.97’’

Dhuhur     

= WH – e + (λd – λx) ÷ 15

= 12 – (-0⁰ 7’ 25.21’’) + (105⁰ – 110⁰ 21’ 09.53’’) ÷ 15

WIB             = 11⁰ 46’ 00.57’’

=  11⁰ 47’ – 03’

= 11⁰ 50’

ZM (Jarak Zenith)        

= δ – Φ

= -21⁰ 57’ 37.09’’ – (-6⁰ 59’ 44.94’’)

= -21⁰ 37.09’’ + 6⁰ 59’ 44.94’’

= -14⁰ 57’ 52.15’’

= 14⁰ 57’ 52.15’’

hashar      = tan ZM + 1

= tan 14⁰ 57’ 52.15’’ + 1

= 38⁰ 16’ 35.63’’

Cos to     = sin hashar ÷ cos Φ ÷ cos δ – tan Φ . tan δ

= sin 38⁰ 16’ 35.63’’ ÷ cos -6⁰ 59’ 44.94’’ ÷ cos -21⁰ 57’ 37.09’’ –     tan -6⁰ 59’ 44.94’’ . tan -21⁰ 57’ 37.09’’

to              = 51⁰ 25’ 53.17’’ ÷ 15 – 12

WH    = 15⁰ 25’ 43.54’’

WIB   = WH – e + (λd – λx) ÷ 15

= 15⁰ 25’ 43.54’’ – (-0⁰ 7’ 25.21’’) + (105⁰ – -6⁰ 59’ 44.94’’) ÷ 15

= 15⁰ 11’ 44.12’’ (dibulatkan)

= 15⁰ 12’ + 02’

= 15⁰ 14’

Maghrib                        

  1. hterbenam         = -1⁰ 06’ 24.97’’
  2. cos to   = sin hmaghrib ÷ cos Φ ÷ cos δ – tan Φ . tan δ

= sin -1⁰ 06’ 24.97’’ ÷ cos -6⁰ 59’ 44.94’’ ÷ cos -21⁰ 57’ 37.09’’ – tan -6⁰ 59’ 44.94’ . tan -21⁰ 57’ 37.09’’

to   = 94⁰ 02’ 26.59’’

WH           =  94⁰ 02’ 26.59’’ ÷ 15 + 12

= 18⁰ 16’ 09.77’’

3. awal waktu maghrib     = WH – e + (λd – λx) ÷ 15

= 18⁰ 16’ 09.77’’ – (-0⁰ 7’ 25.21’’) + (105⁰ – 110⁰ 21’ 09.53’’) ÷ 15

= 18⁰ 03’

Ikhtiyath       =       02’

Waktu Maghrib      = 18⁰ 05’ WIB

Isya’

  1. hisya        = -17⁰ + (-1⁰ 06’ 24.97’’)

= -18⁰ 06’ 24.97’’

2. cos to       = sin ho ÷ cos Φ ÷ cos δ – tan Φ . tan δ

= sin -18⁰ 06’ 24.97’’  ÷ cos -6⁰ 59’ 44.94’ ÷ cos -21⁰ 57’ 37.09’’ – tan -6⁰ 59’ 44.94’ . tan -21⁰ 57’ 37.09’’

to      = 112⁰ 46’ 26.72’’

WH        = 112⁰ 46’ 26.72’’ ÷ 15 + 12

= 19⁰ 31’ 05.78’’

3. awal waktu isya    = WH – e + (λd – λx) ÷ 15

= 19⁰ 31’ 05.78’’ – (-0⁰ 7’ 25.21’’) + (105⁰ – 110⁰ 21’ 09.53’’) ÷ 15

= 19⁰ 17’ 06.36’’ dibulatkan

= 19⁰ 18’

Ikhtiyath    =  02’

Waktu isya            = 19⁰ 20’ WIB

Shubuh

a.  h subuh    = -19 + (-1o06’24.97’’)

=-20o06’24.97’’

b. costo   = sin h subuh ÷ cos Ф ÷ cos δ- tan Ф . tan δ

= sin -20o06’24.97’’÷ cos -6o59’44.94’’÷ cos -21o57’37.09’’- tan -6o59’44.94’’. tan -21o57’37.09’’

= 115o01’10.39’’ ÷ 15

= 7o40’04.69’’

WH = 12 – 7o40’04.69’’

= 4o19’55.31’’

c. Awal waktu subuh

= WH- e + (λd – λx)÷ 15

= 4o19’55.31’’- (-0o7’25.21’’) + (105o-110o21’09.53’’) ÷ 15

= 4o05’55.88’’ dibulatkan

= 4o06’

Ihtiyat = 02’ +

= 4o08’

Waktu shubuh pukul 04.08 wib

Terbit

1. h terbit          = -1o06’24.97’’

2. costo              = sin h terbit ÷ cos Ф ÷ cos δ- tan Ф . tan δ

=sin  -1o06’24.97’’ ÷ cos  -6o59’44.94’’÷ cos  -21o57’37.09’’- tan -6o59’44.94’’. tan -21o57’37.09’’

To  = 94o02’26.59’’  ÷ 15

= 6o16’09.77’’

WH   = 12 –  6o16’09.77’’

=5o43’50.23’’

3. Awal waktu terbit

= WH- e + (λd – λx)÷ 15

= 5o43’50.23’’-( -0o7’25.21’’) +  (105o-110o21’09.53’’) ÷ 15

=  5o29’50.08’’ dibulatkan

=5o29’

Ihtiyat  =    02’ +

=5o27’

Waktu terbit pukul. 05.27 WIB

Dhuha

1. h dhuha        = 4o30’

2. costo              = sin h terbit ÷ cos Ф ÷ cos δ- tan Ф . tan δ

=sin   4o30’ ÷ cos  -6o59’44.94’’÷ cos  -21o57’37.09’’- tan -6o59’44.94’’. tan -21o57’37.09’’

To        = 87o57’03.97’’  ÷ 15

= 5o51’48.26”

WH   = 12 –  5o51’48.26”

= 6o08’11.74”

3. Awal waktu dhuha

= WH- e + (λd – λx)÷ 15

= 6o08’11.74”-( -0o7’25.21’’) +  (105o-110o21’09.53’’) ÷ 15

=  5o54’12.71’’ dibulatkan

=5o55’

Ihtiyat  =    02’ +

=5o57’

Waktu dhuha pukul. 05.57 WIB

Referensi Buku

M.QuraishShihab, Tafsir Al-Misbah, Volume-6, (Jakarta: Lentera hati, 2002).

Kementrian agama RI, Syaamil. Al-QuranMiracletheReference, (Bandung: SaygmaPublishing, 2010).

Al-Raziy, Tafsir Al-Kabir (Mafatih al-Ghaib), Cet. I, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1990).

Slamet Hambali, Ilmu Falak I,Cet. I,  (Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang, 2011).

Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktek,Cet. IV,(Buana Pustaka, 2011).

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s