Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

1 Komentar

Korelasi Tauhid dengan Ibadah

  1. Pengertian aqidah

Secara terminologi, aqidah berasal dari kata ‘Aqd yang artinya pengikatan, maksudnya adalah mengikat hati kepada sesuatu hal. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang atau kepercayaan hati dan pembenaran terhadap sesuatu.[1] Menurut  M Hasbi Ash Shiddiqi dalam bukunya “Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam” aqidah menurut ketentuan bahasa adalah sesuatu yang dipegang teguh dan terhujam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih padanya. Disini tak ada perbedaan baik aqidah tersebut  tumbuh karena meniru atau meneladani orang tua (masyarakat) ataupun  tumbuh karena suatu anggapan dan atau tumbuh dikarenakan sesuatu dalil aqli yang diyakini kebenarannya.[2]

Secara syara’ sebenarnya aqidah itu tidak lain adalah percaya, atau keimanan. Dalam hal ini yaitu beriman kepada Allah, malaikatnya, kitabNya, para RasulNya, kepada hari akhir, dan kepada qada dan qadar. Ilmunya disebut dengan ilmu aqidah atau ilmu aqoid. Pendek kata, ilmu aqidah ialah ilmu yang membicarakan tentang segala hal yang berhubungan dengan rukun iman dalam Islam dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang meyakinkan.[3]

Aqidah bersifat tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, karena itulah sumber-sumbernya terbatas pada apa yang ada di dalam al-Qur’an dan AS-Sunnah. Oleh karena itu, manhaj Salafu Shalih dan para pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada al-Qur’an dan AS-Sunnah. Sehingga para ulama sependapat  dalam menetapkan suatu aqidah tidak dapat dipandang aqidah terkecuali apabila sesuai dengan yang sebenarnya yakni dapat dibuktikan kebenaran aqidah itu dengan dalil yang kuat. Mengenai perpautan hati dengan sesuatu yang dijadikan aqidah ada yang mengatakan hal itu harus berdasar dalil dan ada pula yang mengatakan tidak perlu adanya dalil, cukup bertaqlid saja.[4]

  1. Pengertian Ibadah

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri dan tunduk. Menurut syara’, ibadah ialah tunduk dan merendahkan diri kepada Allah swt disertai rasa mahabbah, ibadah ini mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhoi Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan yang dhohir maupun bathin.[5]

Dalam ruang lingkupnya ibadah terbagi menjadi tiga yaitu : ibadah hati, ibadah lisan, anggota badan. Ibadah Qalbi dalam hal ini meliputi rasa takut (Khauf), pengharapan (raja’), rasa cinta ( mahabbah), tawakkal, kesenangan ( Raghbah).[6]

Keberadaan ibadah itu sendiri  merupakan tujuan dari penciptaan manusia, sebagaimana Firman Allah dalam surat Adz –Dzariyat ayat 56 :

وما خلقت الجنّ والانس الاّ ليعبدون۞

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku.”

Suatu amalan dapat dikatakan sebagai ibadah jika memenuhi dua kesempurnaan, yaitu kesempurnaan cinta dan kesempurnaan dalam ketundukannya. Dari keduanya juga dibangun diatas dua dasar yang besar yaitu:[7]

  1. Merasa diawasi oleh Allah SWT, mengingat semua nikmatNya, karunia, rahmatNya yang mengharuskan kita  mencintaiNya.
  2. Mengoreksi cacat dalam diri dan perbuatan yang menyebabkan kehinaan dan ketundukan yang sempurna kepada Allah.

Allah SWT. berfirman :

والذين ءامنوا أشدّ حباّ لله

“Adapun orang – orang yang beriman itu sangat cinta pada Allah”  ( Al Baqarah ayat: 165)[8]

Sebagian salaf berkata : “siapa yang menyembah Allah dengan rasa hub  saja maka ia zindiq[9]. Siapa yang menyembahnya dengan raja’ saja maka ia adalah murji[10], dan siapa yang menyembahnya dengan Khouf saja maka ia adalah haruriy[11] dan barang siapa yang menyembahnya dengan khouf, dan raja’ maka ia adalah mukmin muwahid.[12]

Dari uraian yang mencakup pengertian aqidah dan ibadah tersebut dapat diambil suatu pemahaman adanya koherensi dan keterkaitan antara aqidah dengan ibadah, yaitu aqidah merupakan keyakinan yang tertanam dalam hati yang pengaplikasiannya disalurkan dalam bentuk ibadah, baik ibadah lisan, ibadah hati maupun ibadah anggota badan.

  1. IMAN (AQIDAH) SEBAGAI DASAR AMAL IBADAH

Mengacu dari pengertian aqidah (keimanan) yang berarti adalah menyakini dengan sepenuh hati yaitu kepercayaan hati dan pembenaran kepada sesuatu. Jika dihubungkan dengan masalah ibadah, aqidah (keimanan)  merupakan titik pangkal atau dasar dalam kita menjalankan ibadah. Aqidah memiliki keistimewaan, yakni merupakan makanan jiwa bagi kehidupan ruh sebagaimana badan membutuhkan makanan. Manusia memerlukan makanan untuk memelihara kesehatannya. Maka, jiwa juga memerlukan aqidah (keimanan) untuk menjalankan kehidupannya baik dalam kemasyarakatan, maupun kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, dalam pencapaian kesempurnaan ibadah dibutuhkan keimanan yang menyertainya.[13]

Agar dapat diterima, suatu ibadah disyariatkan harus benar, dan ibadah itu tidak benar kecuali dengan syarat Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar maupun kecil. Hal ini merupakan  konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallah, karena mengharuskan ikhlas beribadah hanya karena Allah dan menjauhi syirik dari padanya. Hal itu menunjukan bahwa ibadah seseorang baru akan dianggap sah jika dihatinya tertanam rasa iman terhadap Allah.

Selanjutnya ibadah juga harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, ini merupakan konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah. Karena Allah menuntut kepada makhluk untuk taat kepada Rasulullah dan meninggalkan perbuatan bid’ah.[14]

Kita ketahui bahwa syari’at terbagi menjadi dua yaitu I’tiqodiyah dan Amaliyah. Dimana I’tiqodiyah merupakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti I’tiqod terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri’tiqod terhadap rukun-rukun iman yang lain, semua itu disebut sebagai ashliyah (pokok agama).[15]

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti sholat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini adalah far’iyah (cabang agama), karena ia dibangun di atas I’tiqodiyah. Sehingga benar atau rusaknya amaliyah tergantung dari benar atau rusaknya I’tiqodiyah. Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi: 110 :

فمن كا ن يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولايشرك بعبادة ربه احدا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada tuhan”.

  1. TAUHID SEBAGAI FITRAH MANUSIA

Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhlukNya dengan fitrah mengenal dan bertauhid kepadaNya dengan berkeyakinan bahwa dialah sang pencipta, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan hanya dialah yang berhak untuk disembah, sebagaimana Allah jelaskan dalam al-Qur’an :

فطرة الله التي فطر الناس عليها لاتبديل لخلق الله ذالك الدين القيم ولكن اكثر الناس لايعلمون

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah ( tetaplah atas) fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitroh itu. tidak ada perubahan pada fitroh Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum ayat 30) [16]

Rasulullah menjelaskan adanya fitrah ini dalam sebuah hadits shahih :

كل مولد الا يولد عل الفطرة  فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه

“Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya beragama yahudi, nasrani atau majusi.”

Dalam Al-Quran menegaskan adanya potensi yang dimiliki manusia sebagai unsur dominan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia dalam menjalankan tugas dan kedudukannya dimuka bumi ini. Potensi tersebut secara sederhana disebut sebagai fitrah.[17]

Dari segi bahasa, kata fitrah diambil dari akar kata al-fatr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain, diantaranya “penciptaan” atau “ kejadian”. Konon sahabat Nabi Ibnu Abbas tidak tahu persis makna kata fathir pada ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan langit dan bumi sampai ia mendengar pertengkaran tentang kepemilikan suatu sumur. Salah seorang mereka berkata “ana fathartuhu”. Ibnu abbas kemudian memahami kalimat ini dalam arti, saya yang membuatnya pertama kali. Dan dari situ beliau memahami bahwa kata tersebut digunakan penciptaan atau kejadian sejak awal.[18]

Jika kita merujuk pada pengertian fitrah di atas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa maksud dari teks al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 30 bahwa manusia sejak asal kejadianya membawa potensi beragama yang lurus, dan dipahami oleh para ulama sebagai tauhid.

[1]  Salih bin Fauzan bin Abdullah Al- Fauzan,Kitab Tauhid, Jakarta : Yayasan Al Shofwa, 2000, hlm.3

[2] Hasbi Ash Shidiqie, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid, Jakarta : PT Bulan Bintang, 1986,  hlm.51

[3] Syahminan Zaini, Kuliah Aqidah Islam, Surabaya: Al-Ikhlas, 1983, hlm. 53.

[4] Hasb Ash Shidiqiei, Op, Cit, hlm. 63

[5]  Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al- Fauzan, Op.cit,  hlm. 76.

[6] Ibid.

[7] Muhammad bin Abdullah At-Tuwaijriy, Makna Ibadah dan Hakikatnya, Team Islam House : 2007, hlm. 2-3.

[8] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Jakarta : Fajar Mulia, 2007, hlm. 31.

[9] Zindiq yaitu istilah untuk setiapmunafiq atau orang yang sesat

[10] Murji’ adalah orang murjiah yaitu golongan yang menyatakan bahwa amal bukan dari bagian iman, iman hanya dengan hati.

[11] Haruriy adalah orang dari golongan hawarij yang pertama kali muncul di Haruro’ dekat kuffah yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa adalah kafir.

[12] Shalih bin Fauzan, Op. Cit, hlm. 82-83

[13] Hasbi Ash-Siddiqi. Hlm.50

[14] Salih bin Fauzan. Op.Cit Hlm.85

[15]Ibid,  Hlm.34

[16] Departemen Agama RI, Op. Cit, hlm. 574.

[17] Saepul Anwar, makalah Konsep Fitrah dalam Islam

[18] Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah,  Jakarta : Lentera Hati, 1996 hlm. 284

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

One thought on “

  1. Mantapp dahhh…
    Matur nuwun

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s