Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

RESEPSI TRADISI PEMBACAAN MANAQIB DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT PEMBACA

1 Komentar

Oleh : Basyir Fadlullah[1]Ustadz Pontren Minhajut Tholabah

A. PENGANTAR

Pembacaan Manaqib adalah fenomena social yang keberadaannya sudah menjadi tradisi berabad – abad lamannya. Dalam kacamata antropologi keberadaan tradisi ini tentunya tidak ada dengan sendirinya akan tetapi bersinggungan erat dengan konsepsi – konsepsi khusus mengenai pergeseran masyarakat dan kebudayaan menuju kepada perubahan yang melalui proses – proses diantaranya; internalisasi, sosialisai, akulturasi, evolusi, difusi, asimilasi hingga pembaruan atauu inovasi[2]. Sedang dalam kacamata sosiologi keberadaan tradisi ini bersinggungan erat dengan motif masyarakat pelakunya apakah tradisi ini dapat memenuhi sebagian atau kesemua kebutuhan mereka. Kesamaan kebutuhan ini yang menjadikan terrjadinya interaksi social yang diwujudkan pada kontak social dengan beragam bentuk baik antara orang peerorangan, anatara perorangan dengan suatu kelompok manusia ataua sebaliknya dan antara kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya[3]. Tradisi pembacaan manaqib juga keberadaannya menyejarah dengan budaya dan psikologi masyarakat dari waktu kewaktu yang kemudian keberadaanya tentunya berpengaruh pada perubahan tingkah laku masyarakat di sebagian atau di semua aspek kehidupan masyarakat pelakunya. Menurut G.W.F Hegel bahwa semua perubahan bersifat historis, dan sejarah sebagai dialektika yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu yang bersifat tesis, antitesis, dan sintesis, dalam progresivitas menuju kondisi yang rasional.

  Asumsi pemakalah diatas untuk meneliti keberadaan tradisi pembacaan manaqib menemukan ruang. Adalah Jama’ah Thoriqoh Syadziliyah di Dusun Lawigede Desa Kembangan Bukateja dengan pimpinan Bapak K. Khotib merupakan pelaku tradisi ini dan pemakalah jadikan objek penelitian untuk dijadikan pintu masuk menelusuri asal-usul tradisi pembacaan manaqib dan menelusuri seberapa jauh resepsi masyarakat pelaku terhadap tradisi ini dan seberapa jauh tradisi ini mendorong serta mempengaruhi di sebagian atau bahkan semua sendi kehidupan masyarakat pelaku dalam hal ini jama’ah thoriqoh Syadziliah Dusun Lawigede Desa Kembangan.

Bisa kita sebutkan disini bahwa tujuan penelitian ini adalah ; pertama, menelusuri asal-usul tradisi pembacaan manaqib. Kedua, menelusuri seberapa jauh resepsi masyarakat terhadap tradisi pembacaan manaqib ini. Ketiga, menelusuri seberapa jauh tradisi ini mendorong, dan mempengaruhi di sebagian atau bahkan semua sendi kehidupan pelaku.

B. METHODE PENELITIAN

Penelitian [research] yang  dilahirkan oleh dunia ilmu pengetahuan mengandung implikasi-implikasi yang bersifat ilmiah, karena merupakan proses penyelidikan yang berjalan sesuai ketentuan-ketentuan dalam ilmu pengetahuan tentang penelitian yang selanjutnya disebut methodology of research. Tujuan pokok dari kegiatan penelitian adalah mencari ”kebenaran-kebenaran objektif” yang disimpulkan melalui data-data yang terkumpul. Kebenaran-kebenaran objektif yang diperoleh tersebut kemudian digunakan sebagai dasar atau landasan untuk pembaruan, perkembangan atau perbaikan dalam masalah-masalah teoritis dan praktis bidang-bidang pengetahuan yang bersangkutan [4].

Bagaimana jika objek kajiannya adalah wilayah agama atau keagamaan?, banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan seperti antropologi, psikologi, sosiologi, dan lain-lain telah mencoba mendefinisikan agama, tetapi banyak pula hasilnya kurang atau tidak memuaskan, karena tidak dapat diperoleh definisi yang seragam[5], agama yang paling sulit dari semua perkataan untuk didefinisikan, karena agama menyangkut lebih daripada hanya pikiran, yaitu menyangkut dengan perasaan dan kemauan juga dan dapat memanifestasikan dirinya menurut segi-segi emosionalnya walaupun idenya kabur. Namun demikian, mendefinisikan ”agama” dapat juga dilakukan, meskipun sangat minimal[6].

Menurut Juhaya S. Praja, bila agama menjadi objek penelitian maka dapat dibedakan pada penelitian agama dan penelitian keagamaan. Pertama; Penelitian agama adalah penelitian tentang asal usul agama, dan pemikiran serta pemahaman penganut agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung di dalamnya. Jadi, jelas Juhaya, dalam pandangannya terdapat dua bidang penelitian agama, yaitu :  1.penelitian tentang sumber ajaran agama yang telah melahirkan disiplin ilmu tafsir dan ilmu hadis. 2. Pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran yang terkandung dalam sumber ajaran agama, penelitian dalam bidang ini telah melahirkan filsafat Islam, ilmu kalam, tasawuf dan fiqih. Kedua; penelitian tentang keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Berdasarkan batasan tersebut, penelitian hidup keagamaan meliputi hal-hal, yaitu : 1. Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas agama yang dianutnya. 2. Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama. 3. Ajaran agama yang membentuk pranata sosial, corak perilaku, dan budaya masyarakat beragama[7]

Maka sesuai tujuan penelitian diatas pemakalah masukan pada penelitian keagamaan dengan sejarah dan ilmu-ilmu social sebagai pendekatan dan metode penelitiannya. Bila sejarah dijadikan sebagai sesuatu pendekatan untuk mempelajari keagamaan dalam hal ini menelsuri asal-usul tradisi pembacaan manakib, maka sudut pandangnya akan dapat membidik  aneka-ragam peristiwa masa lampau. Sebab sejarah sebagai suatu metodologi menekankan perhatiannya kepada pemahaman berbagai gejala dalam dimensi waktu. Aspek kronologis sesuatu gejala, termasuk gejala agama atau keagamaan, merupakan ciri khas di dalam pendekatan sejarah. Karena itu penelitian terhadap gejala-gejala agama berdasarkan pendekatan ini haruslah dilihat segi-segi prossesualnya, perubahan-perubahan (changes), dan aspek diakronisnya. Bahkan secara kritis, pendekatan sejarah itu bukanlah sebatas melihat segi pertumbuhan, perkembangan serta keruntuhan mengenai sesuatu peristiwa,  melainkan juga mampu memahami gejala-gejala struktural yang menyertai peristiwa.[8] Dalam hal untuk menelusuri seberapa jauh resepsi masyarakat terhadap tradisi ini dan juga seberapa jauh tradisi ini mampu mendorong, mempengaruhi perubahan tingkah laku masyarakat pelakunya, metode yang digunakan adalah metode-metode penelitian sosial pada umumnya karena adanya perubahan sosial, struktural-fungsional, pertukaran sosial, dan sikap[9].

C. ASAL-USUL, RESEPSI DAN PENGARUH TRADISI PEMBACAAN MANAQIB

Kitab An Nurul Jaliy fi Manaqibil Imam Abil Hasan ‘Aliy Asy-Syadziliy karangan As-Syekh Muhammad Ma’ruf As-Sholo (K. Ma’ruf Mangkuyudan Solo), dapat dikategorikan pada bahwa buku ini tentang biografi Ulama Tasawuf asal ghumaroh, tidak jauh dari kota Saptah, Maroko, Afrika, lahir 593 H/ 1197 M bernama Abul Hasan ‘Ali asy-Syadziliy[10] yang silsilah keturunannya sampai Rosulillah ke dua puluh dua. Kitab ini menceritakan tentang nasab, keilmuan, akhlak, kema’rifatan hingga karomah beliau[11].

Kitab ini dibaca oleh Jama’ah Thoriqih Syadziliah setiap malam Ahad Wage dan setiap ada kebutuhan tertentu dari urusan uhkrowi hingga urusan duniawi. Jama’ah ini yakin bahwa membaca manaqib yang dipimpin oleh pemimpin / guru / mursyid thoriqoh akan mempermudah mereka memenuhi segala hajat dunia dan aherat termasuk mempermudah masuknya mereka ke Syurga[12].

K. Khotib pimpinan jama’ah Thoriqoh Asy Syadziliah Dusun Lawigede Desa Kembangan mendapatkan izin dan bai’at dari gurunya bernama K. Toefur (pengasuh Ponpes Nurul Falah Somalangu Kebumen) dan K. Toefur mendapatkan ijin dan bai’at dari gurunya Sekaligus bapaknya bernama K. Abdurrahman Al Kahfi dan K. Abdurrahman Al Kahfi Kebumen mendapatkan ijin dan bai’at dari gurunya bernama Syeikh Ma’ruf Mangkuyudan Solo sampai Syeikh Nahrawiy Al Makky[13] Hingga Syekh Abul Hasan ‘Ali Asy Syadzili untuk memimpin pembacaan manaqib ini dan sudah berjalan selama 15 tahun[14] .

Geneologi pemikiran Syeikh Abil Hasan sendiri dipengaruhi oleh Para pencetus nalar ‘irfani (gnosis / tasawuf) seperti Imam Ghazali (450 – 505 H) dengan kitab Ihya Ulumuddin, Abu thalib al Makiy (w. 386 H) dengan Kitab Quutul Qulub, Imam Al Qusyairi (376 – 467 H) dengan kitab Ar Risalah), Harist al Muhasiby (w. 243 H), Abu Yazid al Busthomi (w. 261 H), Imam al Junaidi (w. 297 H) dan Abu Bakar Asy Syibly (w. 334 H) yang ternyata juga dirunut dari silsilah thoriqoh bertemu dengan Syeikh Abdul Qodir al Jailani melalui Syeikh Abul Qosim Junaidi al Baghdadi[15] (Liha lampiran guru ruhani Syeikh Abil Hasan)

Yang menarik disini adalah adanya erat kaitan dengan dunia tasawuf dan thoriqoh sehingga upaya menelusuri asal – usul tradisi pembacaan manaqib ini seharusnya juga mengurai asal usul konsep tasawuf dan thoriqoh secara umum, setting kondisi sosio politik pada saat itu, bagaimana juga masuk dan mentradisi di Indonesia apakah ada erat kaitannya dengan proses Islamisasi Nusantara sebelum terbelah menjadi beberapa Negara termasuk Indonesia, dan kini mewadah di organisasi thoriqoh yang masyhur (mu’tabaroh) dalam naungan pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Martin Van Bruinessen, seorang orientalis asal Negara Kincir Angin Belanda secara apik dan teliti telah melakukan research menelusuri tradisi – tradisi Islam di Indonesia termasuk tradisi tasawuf dan terekat – tarekat, keberhasilan Martin diakui oleh Abdurrohman Wahid dalam kata pengantar buku Martin yang berjudul Kitab Kuning, Pesantren dan Tarkeat pada saat Gus Dur panggilan akrabnya menjadi ketum PBNU[16] walau kemudian Martin mendapat  kritik dari Alwi Syihab dalam hal tertentu, dalam arti Alwi Syihab dalam desertasinya mampu menguak kelemahan – kelemahan hasil research  para orientalis tentang teori – teori proses Islamisasi Indonesia hingga pendapat Martin Van Bruinessen tentang tasawuf dan tarekat di Indonesia. Maka pemakalah sangat berkepentingan untuk mendialektikakan dua buku tulisan Martin dan Alwi Syihab di dalam makalah ini.

Secara umum bagi Alwi, bahwa pertama; meskipun penyebaran Islam berlangung secara bertahap hingga berhasil mendirikan kerajaan Islam di Indonesia pada abad ke- 9 H, bisa dipastikan bahwa Islam telah masuk lebih awal pada abad pertama Hijriah dengan bersumber pada pusat Islam yaitu Arab bukan pada abad 7 H, Kedua; bahwa pelopor proses Islamisasi Indonesia adalah para sufi sunni yang berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bermadzhab Syafi’I, beraliran Asya’riyyah, dan menganut Ghazalisme bukan sufi falsafi bukan juga dari India dan Persia. Ketiga; menurut pemakalah, Alwi menegaskan bahwa tidak ada sinkretisme Islam dengan Animsme-Dinamisme, Hindu dan Budha dalam Islamisasi Indonesia baik sufi falsafi yang lebih memungkinkan untuk sinkretik dengan agama sebelum Islam masuk  apalagi sufi sunni yang jelas-jelas ada garis pembeda dengan sufi falsafi. Keempat; kebanyakan tarekat sufi Indonesia merupakan merupakan cabang tarekat Hijaz dan para syeikhnya memiliki sanad yang bisa dilacak kepada seikh-syeikh tarekat terkemuka di Timur Tengah[17]. Ini juga memberikan ketegasan dari apa hasil diskusi teman-teman Ciganjur yang mempertanyakan apakah dalam proses Islamisasi Indonesia ada paktek penaklukan (konversi) atau melalui proses dialog (adhesi)? Ini didasarkan pada premis-premis pertanyaan apakah para mubaligh setingkat walisongo misalnya mencampur adukan antara budaya dengan ajaran Islam, atau apakah Islam mensahkan ajaran Islam berakulturasi dengan budaya atau hanya sebuah pendekatan dakwah saja yang kemudian ada langkah purifikasi lanjutan?[18].

Lain hal dengan Martin yang mengamini pendapat orientalis lebih awal Snouck Hurgronje, beliau berpendapat bahwa pelopor proses Islamisasi Indonesia adalah terpengaruh  Islam India dan Persia dibuktikan dengan besarnya pengaruh tarekat Syatariyah yang berasal dari India pada awal pertengahan abad 17 di Indonesia, keberadaan pengaruh tokoh terkenal Nuruddin al Ranriri ulama Arab asal India yang mempunyai hubungan erat dengan India dan keberadaan tarekat Naqsyambadiah dan Qodiriyah yang berfiliasi dengan India bukan Timur Tengah[19]. Martin cenderung kepada tasawuf falsafilah yang berperan pada proses Islamiasi di Indonesia ini dibuktikan dengan generasi pertama Indonesia belajar sebagian tradisi keilmuan di tanah Arab yang ada seperti; tasawuf falsafi, kosmologi, terekat dan ilmu-ilmu gaib, tetapi juga ilmu fiqih terutama yang cocok dengan budaya lamanya, dalam perjalanan waktu makin banyak dimensi tradisi lama menjadi melebur menjadi tradisi Islam[20]. Sehngga Martin lebih meyakini bahwa telah terjadi sinkretisasi tradisi agama sebelum Islam dengan Ajaran Islam yang datang sesudahnya.

Diluar pertentangan proses Islamisasi Indonesia yang ada erat kaitannya dengan tarekat-tarekat yang didalamnya terdapat tradisi pembacaan manaqib ulama pendiri tarekat tersebut, bisalah pemakalah menarik kesimpulan bahwa asal-usul tradisi pembacaan manaqib ini berkaitan erat dengan tarekat-terekat baik tasawuf falsafi maupun sunni yang hadir bukan pada ruang dan waktu yang kosong akan tetapi “berjalin bekelindan” / “atstsara – taatsara” dengan tradisi sebelum Islam masuk dan pasti disana ada upaya konversi maupun kohesi antara tradisi agama yang berbeda.

Resepsi yang dimaknai dengan penerimaan hingga apresiasi sebuah tradisi yang mampu mempengaruhi prilaku kehidupan manusia ini berlaku juga pada resepsi tradisi pembacaan manaqib oleh masyarakat pembaca dalam hal ini jamaah thoriqoh Asy Syadziliah Dusun Laawigede, Kembangan, Bukateja. Ini disebabkan tradisi pembacaan manaqib dalam sejarah asal-usulnya melibatkan proses-proses kebudayaan dari proses internalisasi, sosialisai, akulturasi, evolusi, difusi, asimilasi hingga pembaruan atau inovasi dan juga hasil dari kontak social dengan beragam bentuk baik antara orang perorangan, antara perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya dan antara kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya belum lagi dialektika sejarah setting social yang memberikan peluang mengguritanya proses-proses tadi semisal mengapa Syeikh Abil Hasan ‘Ali Asy Syadzili dengan bebasnya mampu mempengaruhi masyarakat hingga masuk ke Nusantara, jawabannya adalah setting social politik pada saat itu pada masa Bani Abasyiah Kholifah Harun Rosyid (750 – 1250 M) dipuncak-puncaknya peradaban dan keilmuan yang di warnai dengan kritik oto kritik antar pemikir muslim; Imam Ghozali Mengkritik filsafat causalitasnya Ibnu Sina dan Al Farabi yang menurutnya tidak memberi peluang terhadap qudrotulloh dan yang mampu mencari hakekat kebenaran adalah kemampuan nalar gnosis/dzauq/tasawuf hingga Ibnu Rusyd sebagai pendukung filosof al Farabi- Ibnu Sina mencoba mengkritisi Al Ghazali tak kuasa memenangkan pertarungan nalar Burhani vis-à-vis nalar ‘irfani, bahkan diahir usia Ibnu Rusyd berusaha belajar tasawuf kepada Ibnu ‘Arabiy gagal. Kemenangan nalar gnosis ini didukung dengan kondisi abad terpuruknya peradaban Islam disisi lain Barat sudah dan sedang belajar banyak meneruskan tradisi nalar burhani Islam[21].

Hingga masuk ke Indonesia yang dalam kesejarahan Islamisasi Indonesia masuk pada saat tatanan mapan hasil evolusi sistemik lagi mengakar dari nalar sinkretik animism-dinamisme ke singkretik budhisme – Hinduisme. Perubahan evolutif terus berkelanjutan manakala Islam hadir ke Nusantara dibawa oleh pelopor nalar gnosis baik sunni maupun falsafi, dalam pandangan Alwi Syihab ada tiga tahapan perubahan evolutif islamisasi Indonesia bermula dari para wali songo [22]  yang dilanjutkan oleh Abdurrouf as Singkiliy, Syeikh Abdus Shomad Al Palimbani, Syeikh Nuruddin ar Raniri dan Hamzah Fansuri di kemudian tahun di jami’yyahkan oleh Nahdlatul ‘Ulama dalam wadah Jam’iyyah Thoriqoh al Masyhuroh (al Mu’tabaroh). Sehingga pengaruh tradisi inipun masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat pembacanya. Kehidupan diwarnai dengan mistis, paternalistik, moralitas, prinsip hormat, keselarasan social – ekonomi hingga tempat aspirasi politik[23].

C. PENUTUP

                 Resepsi tradisi tradisi Islam diantaranya berupa pembacaan manaqib yang berakar pada tasawuf dan thoriqoh pada sekarang ini tidak hanya berkembang pada masyarakat pedesaan yang bernotabee komunitas NU akan tetapi masyarakat terdidik di wilayah perkotaan bernotabene bukan pengikut NU sudah menerima hingga mengapresiasi tradisi ini dalam bentuk dan cara yang beragam,ini membuktikan apa yang diprediksi oleh teori social dan kebudayaan tentang interaksi social dengan wujud kontak social didasari atas dasar sama-sama membutuhkkan spiritualitas yang hanya bisa didapat di dunia tasawuf melalui media thoriqoh. Pengaruh tradisi ini yang masuk kepada sendi-sendi kehidupan masyarakat pembaca manaqib ini juga membuktikan kebenaran teori antropologi yaitu telah terjadi pergeseran antara masyarakat dan kebudayaan menuju kepada perubahan melalui proses-proses; internalisasi, sosialisai, akulturasi, evolusi, difusi, asimilasi hingga pembaruan atau inovasi.

 

Referensi;

Siroj, Aqi, Said, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Bandung; Mizan 2006

Hegel, G.W.F. Filsafat Sejarah, (terj). Jojakarta; Panta Rhei Books 2003

Shihab, Alwi. Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi Akar Tasawuf di Indonesia,Depok; Pustaka IIMaN 2009

Ma’ruf, Muhammad, An Nurul Jaliy fi Manaqibil Imam Abil Hasan ‘Ali Asy Syadzili, 2007

Bruinessen, Van, Martin. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. Bandung; Mizan 1999

Bruinessen, Van, Martin.NU, Tradisi, Tradisi Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru.Yogyakarta; LKiS 1999

Muhayya, abdul, Dkk. Tasawuf dan Krisis. Semarang; Pustaka Pelajar 2001

Jurnal Pesantren Ciganjur, Edisi 3 Th. 2006

Arifin,HM. Kapita Selekta Pendidikan [Islam dan Umum], Jakarta; Bumi Aksara, cet.II, 1993,

Nata,  Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta; RajaGrafindo Persada, 2004,

Purnawan Bukhori, Manaqib Sang Quthub Agung, Tulungagung; Pondok PETA, 2009,

Praja, Juhaya S. Pengantar Filsafat Ilmu: Filsafat Ilmu-ilmu Islam, Bandung; Program Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati, 1997, .

Matutulada, Studi Islam Kontemporer Sintesis Pendekatan Sejarah, Sosiologi dan Antropologi dalam Mengkaji Fenomena Keagamaan, dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim )editor(, Metodologi Penelitian Agama, Sebuah Pengantar, Yogyakarta; Tiara Wacana,1989,


[1] Pengajar di Ponpes Minhajut Tholabah, Kembangan Bukateja Purbalingga

[2]  Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta; PT Rineka Cipta, 1990 Hal.227 – 260

[3]  Soerjono Soekanto, Sosiiologi Suatu Pengantar, Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2002. Hal 61 – 62

[4] HM. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan [Islam dan Umum], Jakarta; Bumi Aksara, cet.II, 1993, hal. 142.

[5] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta; RajaGrafindo Persada, 2004, hal. 167

[6] Ibid, hal. 168

[7] Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Ilmu: Filsafat Ilmu-ilmu Islam, Bandung; Program Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati, 1997, hal. 32.

[8] Matutulada, Studi Islam Kontemporer [Sintesis Pendekatan Sejarah, Sosiologi dan Antropologi dalam Mengkaji Fenomena Keagamaan], dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim [editor], Metodologi Penelitian Agama, Sebuah Pengantar, Yogyakarta; Tiara Wacana,1989, hal. 3

[9] Ibid,  hal 5-6

[10] Tidak di nisbatkan kepada daerah atau tempat tertentu melainkan pada penekanan kata syaadz berarti jarang karena keistimewaan beliau dalam menyatu untuk bewrhidmat demi untuk Allah dan demi cinta kepada-Nya.

[11] As-Syekh Muhammad Ma’ruf As-Sholo, An Nurul Jaliy fi Manaqibil Imam Abil Hasan ‘Aliy Asy-Syadziliy

[12] Wawancara dengan K Khotib Tgl 25 Pkl 01 dini hari 2009 Sambil ngopi dan merokok habis 2 bungkus

[13] tidak Melalui jalur Syeikh Dalhar bin Abdurrohman Muntilan, Watu Cogol, Magelang Penulis kitab manaqib Tanwirul Ma’ali Mursyid Thoriqoh

[14] Wawancara dengan K Khotib Tgl 25 Pkl 01 dini hari 2009 Sambil ngopi dan merokok habis 2 bungkus

[15] Purnawan Bukhori, Manaqib Sang Quthub Agung, Tulungagung; Pondok PETA, 2009, Hal. 65 – 67

[16]  Abdurrohman Wahid dalam pengantar Buku Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tasawuf Tradisi-tradisi Islam di Indonesia,Bandung; Mizan, 1999.

[17]  Alwi Syihab, Antara Tasawuf Falsafi dan tasawuf Sunni, Akar Tasawuf di Indonesia,Bandung; Mizan Media Utama, hal. 261 – 269

[18] Basyir Fadlullah dalam Jurnal Pesantren Ciganjur edisi 3 2006 hal.30

[19] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tasawuf Tradisi-tradisi Islam di Indonesia,Bandung; Mizan, 1999. Hal 23

[20] Ibid , hal. 32

[21]  Diambil dari berbagai sumber; makalah SPI dan diskusi

[22]  Salah satu diantaranya adaمah malik Ibrohim bin barokat bin zaenul ‘alim bin jamaluddin al husian bin ahmad syah jalal bin Abdullah bin malik bin ‘alawiy bin Muhammad bin ‘ali kholi’ qosam bin ‘alwi bin muhammmad bin ‘alwi (kepada dinisbatkan alawiyun) bin Abdullah bin ahmad al muhajir bin’isya bin Muhammad bin ‘alwi al ‘aridhi bin imam ja’far Ashodiq bin Muhammad albaqir bin ‘ali zaenul abiding bin husein bin ‘ali bin abi tholib wafathimah binti rosulillah.

[23]  Survai

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

One thought on “RESEPSI TRADISI PEMBACAAN MANAQIB DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT PEMBACA

  1. ya robb ,bawalah aq dalam ilmu panjenengan///sehingga aq menjadi orang yang bs istiqomah

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s