Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

PROBLEMATIKA FILOSOFIS “MEMBACA” AL QUR’AN DENGAN HERMEUNETIKA DARI PERSPEKTIF HERMEUNETIKA

Tinggalkan komentar

Oleh : Basyir Fadlullah[1] Ustadz Pondok Pesantren Minhajut Tholabah

 

A.  PENGANTAR

Makalah ini akan membeberkan konflik antara pemikir muslim yang memegang teguh tradisi penafsiran Islam dengan para pemikir muslim yang menerima tradisi penafsiran Barat dalam penggunaan Hermeunetika untuk “membaca” Al Qur’an dengan pendekatan hermeunetik historis-dialektis-linguistik . Dimulai dengan kritik para pemikir pemegang tradisi penafsiran Islam terhadap penggunaan Hermeunetika untuk “membaca”  al Qur’an yang kemudian dilanjutkan pada bahasan pandangan para pemikir muslim penerima tradisi penafsiran barat terhadap bahasa al Qur’an sebagai bahasa Agama Islam dan Hermeunetika sebuah tawaran untuk sebagai cara “membaca” Al Qur’an. Ini dikandung maksud agar kita tidak kaget dalam mempelajari hal yang baru berupa Hermeunetika dengan cara menolak mentah-mentah Hermeunetika  dan juga tidak serta merta menerima begitu saja Hermeunetika sebagai cara “membaca” al Qur’an, serta sebagai pintu masuk untuk menganalisis problematika hermeunetika yang timbul diakibatkan oleh penggunnaan hermeunetika untuk “membaca” Al Qur’an .

Sejauh makalah ini ditulis memang baru terdapat dua tipologi dalam sikap penggunaan hermeunetika sebagai cara “memperlakukan” Al Qur’an – meminjam istilah Nur Kholis Setiawan- yang satu menolak yang satu menerima dengan segala argumentasinya. Apakah disana terdapat irisan dari sudut padang bahasa agama yang sebenarnya hermeunetika tidak bisa untuk membaca bahasa al Qur’an semisal pada wilayah metafisis-teologis[2] atau model hermeunetika yang positifistik yang dipaksakan untuk mengkaji bahasa al Qur’an yang bersifat rasional saja atau supra-rasional[3]. Disinilah menurut pemakalah kita tidak serta merta secara gegabah menolak atau menerima tanpa berfikir kritis untuk mencoba menggali kemungkinan adakah irisan tersebut diatas karena selama ini belum ada dari pemikir muslim kontemporer yang menerima hermeunetika sebagai cara membaca al Qur’an mengeluarkan hasil tafsir al Qur’an dengan hermeunetika sebagai metodenya.

Pemakalah tertarik pada teman diskusi di pesantren Ciganjur, Roni Subayu yang telah menerapkan konsep Semiotikanya Roland Barthes untuk membaca al Qur’an. Pada kesimpulannya bahwa membaca al Qur’an secara mitis mampu menghidupkan makna al Qur’an dan mampu merespon perkembangan modern yang selama ini diharapkan dari tafsir-tafsir al Qur’an yang telah ada walupun uji penerapan tersebut pada wilayah ayat al Qur’an yang tidak bersifat metafisis[4].

Ketertarikan pemakalah selanjutnya adalah mencoba menelusuri bilik-bilik hermeunetika secara kritis. Harapan pemakalah akan mendapatkan informasi lengkap tentang ontology, epistimologi dan aksiologi hermeunetik. Mengapa Hermeunetik bukan konsentrasi pada linguistic atau analitik atau pula pada semiotic?. Pemilihan hermeunetika sebenarnya satu sisi hanyalah termotivasi pada “hiruk pikuk” arus “lalu lintas” perdebatan dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul akibat usaha penerapan tradisi penafsiran barat yaitu hermeunetika dalam memahami al Qur’an oleh kelompok neo-modernis dan satu sisi yang lain guna mencari ruang – ruang kemungkinan adanya irisan mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan dalam penggunaan hermeunetik sehingga klaim para pemikir pemegang tradisi islam yang tidak memperbolehkan hermeunetika akan lebih akomodatif tapi selektif terhadap hal baru dan masih dalam bingkai kritis terhadap tradisi lama المحافظة علي القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح  .

Alasan selanjutnya sesuai dengan perkembangan sejarah filsafat bahasa bahwa apa yang telah dilakukan oleh kalangan atomisme logis dan positivisme logis telah melumpuhkan metafisika berdasarkan analisis bahasa walaupun tampil kemudian yaitu bahasa biasa akan tetapi tidak tampil sebagai pendekar pembela metafisika melainkan menekankan pada makna bahasa dalam penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan yang demikian ini mendorong para filusuf Jerman dan Perancis untuk mengembangkan pemikiran filsafatnya dengan mendasarkan bahasa dalam proses hermeunetika dengan menawarkan cara lain untuk melihat hakekat bahasa, yaitu bahasa dilihat sebagai cara kita memahami kenyataan dan cara kenyataan yang tampil pada kita[5]. B.   KRITIK TERHADAP HERMEUNETIKA

Bagi para pemikir muslim pengikut tradisi penafsiran Islam kita sebut saja ulama tradisionalis, mempunyai sikap bahwa adopsi  hermeneutika  ke  dalam  studi  al­Qur’an  hanya  akan menggugat  otentisitas  dan  finalitas  al­ Qur’an  sekaligus  membongkar  ilmu­-ilmu  tafsir  al­ Qur’an.  Filsafat  hermeneutika  baik  yang  beraliran  objektifis  ataupun  subjektifis  tidaklah sesuai dengan status al­ Qur’an yang merupakan kitab petunjuk dari Allah swt. Membaca al­ Qur’an sangat berbeda dengan bacaan lainnya. Membaca al­ Qur’an masih memerlukan ilmu­ ilmu al­ Qur’an dan ilmu­-ilmu ­tafsir sebagaimana yang telah diformulasi oleh para ulama berdasarkan kepada ajaran al­ Qur’an dan al ­Sunnah. Hermeneutika aliran objektifis, apalagi aliran subjektifis telah mengabaikan sumber asal yang transendental dan watak dasar dari al­ Qur’an[6].

Pertama, dari sisi otentitas al Qur’an, banyak ulama yang keberatan hermeunetika dijadikan metode untuk menafsirkan al Qur’an karena peran Hermes (dalam tradisi Barat, Hermes berupa dewa berperan menafsirkan pikiran Tuhan) ini berakibat pesan verbatim Tuhan hilang, bercampur baur dengan pikiran Tuhan, penggunaan hermeunetika tanpa syarat sama dengan mengatakan bahwa AlQur’an ini tidak otentik. Posisi Hermes bertentangan secara diametral dengan peran Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad dalam proses penerimaan wahyu. Mereka ; Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu Alloh apa adanya tanpa menafsirkan apalagi menyimpangkan[7].. Selain itu, dalam menafsirkan al­Qur’an, keimanan seseorang merupakan syarat. Ini merupakan  metode  yang  khusus  bagi  yang  ingin  menafsirkan  al­Qur’an.  Al-Tabari, misalnya, menegaskan bahwa syarat utama seorang penafsir adalah akidah yang benar dan komitmen  mengikut  sunnah.  Orang  yang  akidahnya  cacat  tidak  bisa  dipercayai  untuk mengemban amanah yang berkaitan dengan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan![8]. Senada  dengan  al­Tabari,  al-Suyuti  mengatakan  bahwa  sikap  sombong, cenderung kepada bid‘ah, tidak tetap iman dan mudah goyah dengan godaan, cinta dunia yang berlebihan  dan  terus­menerus  melakukan  dosa  bisa  menjadi  hijab  dan  penghalang  dari menerima  anugerah  ilmu  Allah  swt[9]. Jadi,  keimanan  dan  keyakinan  akan  kebenaran  al­ Qur’an sangat penting bagi seorang mufasir al­Qur’an. Hal ini disebabkan status al­Qur’an tidaklah  sama  dengan  teks­teks  yang  lain.

Kedua, dari sisi epistemologis, mereka berpendapat bahwa hermeneutika bersumber dari akal semata-mata, oleh karenanya hermeneutika memuat ظن )dugaan),  شك (keraguan), مراء (asumsi), dan mengimplikasikan  bahwa  penafsiran  akan  selalu  terbuka karena wawasan pemahaman tidaklah tetap, tetapi berubah untuk meraih persamaan paham. Sedangkan didalam tafsir, sumber epistemologi adalah wahyu al-Qur’an dengan pondasi keimanan agar keontetikan al Qur’an terjaga  dengan menggunakan ilmu-ilmu alqur’an untuk membacanya dan ilmu-ilmu tafsir untuk memahami kandungan al Qur’an dengan berpijak pada apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadit-haditsnya yang kemudian mendapatkan finalitas pemahaman terhadap al Qur’an.

Ketiga, dari sisi bahasa dan historisitas kebahasaan, mereka berpendapat bahwa istilah hermeneutika dimulai dari usaha para ahli teologi Yahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks-teks dalam kitab suci mereka untuk mencari “nilai kebenaran Bible”. Mengapa dengan hermeneutika itu para teologi bertujuan mencari nilai kebenaran dadalam Bible?. Jawabannya adalah, karena mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks-teks kitab suci mereka. Mereka mempertanyakan apakah secara harfiyah Bible itu bisa dianggap Kalam Tuhan atau perkataan manusia. Hal itu disebabkan adanya perbedaan gaya dan kosa kata yang ditemukan pada berbagai pengarang Bible. Keadaan ini berbeda dengan kaum Muslimin, yang  yang telah bersepakat bahwa al-Qur’an adalah Kalam Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah saw lewat Malaikat Jibril secara berangsur angsur dan membacanya termasuk ibadah yang akan mendapatkan pahala. Ini berarti menolak bacaan harfiyah adalah kesalahan, membacanya secara harfiyah didalam sholat adalah syarat. Oleh sebab itu kaum Muslimin, berbeda dengan Yahudi dan Kristen, tidak pernah bermasalah dengan lafadz-lafadz harfiyah al-Qur’an. Perbedaan kebahasaan selanjutnya adalah, bahwa Bible kini ditulis dan dibaca bukan lagi dengan bahasa asalnya. Bahasa asal Bible adalah Hebrew untuk Perjanjian Lama, Greek untuk Perjanjian Baru, dan Nabi Isa sendiri berbicara dengan bahasa Aramic. Teks-teks Hebrew Bible pula mempunyai masalah dengan isu Orginality. Mengenai bahasa Hebrew sendiri, saat ini tak ada seorangpun yang masih aktif menggunakan bahasa Hebrew kuno. Oleh sebab ketiadaan bahasa Hebrew pada saat ini, maka wajarlah para teolog Yahudi dan Kristen mencari jalan lain untuk memahami kembali Bible melalui hermeneutika[10]. Belum lagi ditilik dari sisi kesustraan al Qur’an yang hingga kini belum satupun yang mampu menandingi keindahan bahasa al Qur’an.

C.   AL- QUR’AN ; Menurut Pemikir Muslim Kontemporer Neo Modernis

Sedang beberapa  pemikir  Arab  kontemporer  memang  sudah  mulai  menyamakan  al­Qur’an dengan  buku­buku  yang  lain.  Gagasan  pemikir  Arab  kontemporer  seperti  Mohammed Arkoun   dan   Nasr   Hamid   Abu   Zayd   memiliki   kesamaan  ide  bahwa  al­Qur’an  seperti  layaknya  buku­buku  yang  lain, dan ini merupakan suatu gugatan baru terhadap status al­Qur’an sebagai wahyu Allah Swt.

Mohammed Arkoun, seorang guru besar dalam pemikiran Islam di Universitas Sorbon, Perancis, misalnya berpendapat Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang dijadikan “tak terfikirkan” disebabkan semata­mata   kekuatan dan pemaksaan  penguasa  resmi.   Menurut  Mohammed  Arkoun,  konsep  al­Qur’an  merupakan hasil rumusan tokoh­tokoh historis, yang mengangkat statusnya menjadi kitab suci.  Dalam pandangan Mohammed Arkoun, wahyu hanya dapat diketahui oleh manusia melalui “edisi dunia”  (éditions terrestres).  Mohammed  Arkoun  menegaskan,  pada  edisi  ini,  wahyu  telah mengalami modifikasi, revisi, dan substitusi.

Mengenai  sejarah  al­Qur’an,  Mohammed  Arkoun  membaginya  menjadi  tiga  periode: periode  pertama  berlangsung  ketika  pewahyuan  (610­632  H);  periode  kedua,  berlangsung ketika koleksi dan penetapan mushaf (12­324 H/632 – 936 M) dan periode berlangsung ketika masa  ortodoks  (324  H/936  M). Mohammed  Arkoun  memfokuskan  kepada  dua  periode pertama.  Mohammed  Arkoun  menamakan  periode  pertama  sebagai  Prophetic  Discourse (Diskursus  Kenabian)  dan  periode  kedua  sebagai  Official  Closed  Corpus  (Korpus  Resmi Tertutup).Berdasarkan pada ketiga periode tersebut, Mohammed Arkoun mendefinisikan al­ Qur’an  sebagai  “sebuah  korpus  yang  selesai  dan  terbuka  yang  diungkapkan  dalam  bahasa Arab, dimana kita tidak dapat mengakses kecuali melalui teks yang ditetapkan setelah abad ke 4H/10 M.”[11]

Selain   Mohammed   Arkoun,   Nasr   Hamid   Abu   Zayd,   seorang   pemikir berasal  dari  Mesir  menyatakan  al ­ Qur’an  adalah  bahasa  manusia  (the  Qur’an  is human  language). Menurut  Nasr  Hamid,perubahan  teks  Ilahi  (divine  text)  menjadi  teks manusiawi (human text) terjadi sejak turunnya   wahyu   yang pertama kali kepada Muhammad. Dalam pandangan Nasr Hamid, teks al­Qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya, selama  lebih  dari  20  tahun.  Oleh  sebab  itu,  al­Qur’an  adalah  ‘produk  budaya’  (منتاج ثقافي). Ia juga menjadi produsen budaya (منتيج الثقافة) karena menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain.  Disebabkan realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka Nasr Hamid juga menganggap al­Qur’an sebagai teks bahasa (النص اللغوي).  Realitas, budaya, dan bahasa, merupakan fenomena historis dan mempunyai  konteksnya  masing­masing.  Oleh  sebab  itu,  al­Quran  adalah  teks  historis  (a historical  text).   Historisitas  teks,  realitas  dan  budaya  sekaligus  bahasa,  menunjukkan  al­ Qur’an adalah teks manusiawi (نص إنساني). Sebagai teks historis, manusiawi, bahasa, maka Nasr  Hamid  menegaskan  teks­teks  agama  adalah  teks­teks  bahasa  yang  bentuknya  sama dengan teks­teks yang lain di dalam budaya[12].

Senada dengan pemikiran para pemikir kontemporer Arab diatas, pemikir muslim Indonesia kontemporer semisal Komarudin Hidayat dalam kajian dia mengenai bahasa agama berpendapt bahwa terdapat tiga objek kajian yang pertama adalah ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk menjelaskan objek pemikiran yang bersifat metafisis,terutama tentang Tuhan, kedua, bahasa kitab suci, terutama bahasa al Qur’an, dan ketiga bahasa ritual keagamaan. Khusus pada bahasa metafisis, dia berpendapat bawa meskipun al Qur’an di yakini sebagai firman Alloh kenyataannya firman-Nya telah memasuki wilayah historis. Oleh karenanya dalam memahami al Qur’an tidak saja kita melakukan analogi konseptual antara the world of human being dan the world of god, tetapi kita juga perlu melakukan analogi historis-kontekstual antara Nabi Muhammad yang arabik dengan dunia umat Islam lain yang hidup di Zaman serta wilyah yang berbeda sekali. Dengan ini tidak akan masuk pada wilayah remang – remang atau melakukan standar ganda, maksudnya tidak dalam sikap “beriman” dengan hal-hal yang diyakini kebenarannya namun tidak diketahui dan tidak terjangkau oleh nalar, tegasnya tidak berpikir dalam kerangka iman sambil mencoba mencari dukungan dari pemikirannya[13].

Seorang intelektual muda NU Muhammad Nurkholis Setiawan menawarkan beberapa resepsi diantaranya adalah resepsi hermeunetika, resepsi estetik dan resepsi cultural sebagai metode “memperlakukan” al Qur’an. “Perlakuan” terhadap al Qur’an ini dengan memposisikan al Qur’an sebagai teks  terlebih dahulu agar bisa dikaji dan diteliti. Menurutnya karena al Qur’an sebagai pembicaraan Tuhan dengan utusan-Nya dengan menggunakan sarana komunikasi walau komunikasi tersebut berbeda dengan komunikasi yang biasa digunakan manusia dengan sesamanya. Jelasnya bahwa Tuhan sebagai pengirim aktif, sedang manusia sebagai penerima pasif dan al Qur’an sebagai kode komunikasi[14].

Dari para pemikir muslim kontemporer baik Arab maupun Indonesia diatas pada kesimpulannya menerima hermeunetika sebagai model untuk lebih mengungkap hal-hal yang belum terpikirkan (not yet though) dan hal-hal yang tidak terpikirkan (unthinkable) – meminjam istilah Muhammad Arkoun – akan menjadi yang terpikirkan (thingkable). Ini apabila semua yat-ayat al Qur’an diposisikan sebagai teks yang bisa dikaji dan diteliti.

Keterbatasan ilmu tafsr dan ta’wil ini diungkap lebih rinci lagi oleh Fazrur Rohman[15], menurutnya aktivitas ilmu tafsir hanya menekankan pemahaman teks semata tanpa mendialektikakan dengan realitas konteksnya ahirnya al Qur’an bersifat pasif. Nyatanya bisa dibuktikan dengan penelusuran model tafsir dengan metode global (اجمالى), analitis (تحليلي), komparatif (مقارنة), bahkan method mutahirnya tematis (موضوعي) yang menurutnya pengkajian ayat ayat secara parsial sehingga aspek keutuhan dan integralitas pesan yang disampaikan menjadi sulit untuk dilihat bahkan cenderung melahirkan distorsi.[16]

C.   HERMEUNETIKA

Pengertian Hermeunetika

Secara morfologi (علم الصرف) hermeunetika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein yang berarti menafsirkan dan kata benda hermenein yang berarti interpretasi  Hermeneia diasosiasikan kepada dewa Hermes dengan fungsi transmisi apa yang ada dibalik pemahaman manusia kedalam bentuk yang dapat ditangkap oleh intelegensia manusia. Mediasi dan proses pesan-pesan agar diapahami yang diasosiasikan dengan Hermes ini dan berasal dari kata kerja hermeneuein dan kata benda hermenein mempunyai tiga makna yaitu; 1. Mengungkapkan kata-kata, 2. Menjelaskan dan 3. Menerjemahkan[17].

Hermeunetika mempunyai 6 arti disesuaikan dengan kronologi perkembangan bidang hermeunetika. Masing-masing definisi ini merupakan tahapan-tahapan historis dan mempresentasikan sudut pandang darimana hermeunetika dilihat, yaitu; 1. teori eksegesis bible, 2. Metodologi filologi secara umum, 3. Ilmu pemahaman linguistic, 4. Fondasi metodologis geisteswessenshaften, 5. Fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial, 6. System interpretasi, baik recolektif mauun iconoclastic, yang digunakan manusia untuk meraih makna dibalik mitos dan symbol[18].

Tugas Hermeunetika

Salah satu tugas utama hermeneutika yaitu menghidupkan atau merekonstruksikan sebuah teks dalam jaringan interaksi antara pembaca, pendengar, dan situasi batin serta social yang melingkupinya [19]. Lebih lengkapnya yaitu mengusut asumsi-asumsi yang bekerja dalam sebuah penafsiran, bagaimana watak sebuah teks secara umum, bagaimana hubungan antara penafsir dengan teks, bagaimana watak sebuah masyarakat penafsir, bagaimana hubungan antara teks dengan realitas, bagaimana hubungan antara realitas dengan penafsir, bahkan mengusut pengarang teks dst. Hermeneutika juga menelaah bagaimana sebuah proses penafsiran itu sendiri berlangsung. Tugas hermeneutika bukan pada level “teknis” akan tetapi lebih abstrak dan fundamental, atau dianalogikan semisal tafsir dengan sintaksisnya maka hermeunetik dengan linguistiknya atau lebih ke meta-grammarnya. Jelasnya hermeunetik tidak mengurus soal bagaimana menafsirkan kata yang masuk dalam kategori مجملatauمبين, مطلقatauمقيد, عامatauخاص, dst. Hermeneutika juga tidak berurusan dengan غرائب القران, yakni kata yang maknanya asing atau tak dikenal. Hermeneutika tak bersinggungan dengan soal huruf al-adawat حروف الأدواتatau partikel yang kedudukannya sangat penting dalam penafsiran Qur’an. Itu semua adalah bidang spesifik yang menjadi kapling ilmu tafsir / ta’wil[20].

Sampai disini memang dengan pendekatan hermeunetika bisa melakukan “kritik idiologi” terhadap hasil penafisran terhadap teks, karena objek penguakan hermeunetik sampai pada asumsi-asumsi apa yang melandasi seorang penafsir ketika berhadapan dengan teks-teks dan yang seperti ini menurut Ruzbihan Hamdani tidak terdapat pada ilmu tafsir yang cenderung berkutat pada makna teks dengan menkaji dari partikel-partikel penghubung missal حرف عطف atau  و . Atau saja dalam tradisi penafsiran Islam klasik hanya berhenti pada masa lalu dengan mempelajari أسباب النزول (sebab-sebab turunnya) saja[21]. Akan tetapi tidak dikaitkan dengan apa yang terjadi masa sekarang guna merekonstruksi untuk kehidupan masa depan dalam hermeunetika Heidegger diistilahkan dengan tiga dimensi waktu saling memuat dalam permainan resiprokal[22] atau istilah Gadamer dengan efektif history (kesadaran menyejarah) atau juga model double Movement Fazrur Rahman[23].

E.  DISTINGSI ILMU TAFSIR / TA’WIL DENGAN HERMEUNETIKA

Dari penelusuran secara historis-dialektis-linguistik antara tradisi penafsiran Islam dengan tradisi penafsiran Barat bilamana al Qur’an sebagai objek bacaannya maka masih akan menyisahkan problem atau distingsi yang sangat filosofis. Bisa kita lihat di tabel berikut ini.

ILMU TAFSIR /  TA’WIL HERMEUNETIKA
1. Al Qur’an sebagai bahasa verbatim 1. Al Qur’an sebagai bahasa produk manusia dan budaya
2. Terdapat finalitas pemahaman terhadap al Qur’an 2. Relativitas pemahaman sesuai dengan ruang, waktu dan perkembangan keilmuan.
3. Bersumber dari nash al Qur’an dengan pondasi keimanan 3. Bersumber dari akal murni dan siapapun bisa menafsiri al Qur’an tanpa perlu pondasi keimanan
4. Perlu methode khsusus dan bersfat tehnis 4. Bagi hermeunetika filosofis lebih kepada mempertanyakan hal-hal yang fundamental
5. Kurang greget terhadap idioogi2 akibat modernitas 5. Bisa sebagai kritik idiologi kekinian
6. lahir sebagai alat tafsir al Qur’an dan kurang berkembng pesat 6. Dalam sejarah perkembangannya digunakan sebagai alat mengkaji Bibel dan pada perkembangannya menjadi otonom dan pesat.
7. Oleh Ulama Tradisionil 7. Oleh Ulama Neo Modernis

Selanjutnya adakah irisan yang bisa mempertemukan dua tradisi ini yang masih menyisahkan perbedaan yang fundamental agar kelebihan hermeunetika bisa unntuk memperkaya dan mengembangkan tradisi penafsiran Islam. Misalnya saja persoalan ontentitas al Qur’an Hasan Hanafi menurut Yudian Wahyudi memposisikan hermeunetika bersifat horizontal yaitu menafsirkan al Qur’an setelah wahyu Alloh telah dicatat secara verbatim. Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad bertindak sebagai recorder -sebagaimana maksud gelar al amin – barulah Nabi Muhammad melakukan interpretasi disesuaikan dengan konteks[24].

Begitu juga dalam persoalan ayat-ayat metafisis Fazrur Rohman dalam buku karangannya berjudul  Major Themes of the Qur’an (tema-tema pokok al Qur’an) yang lebih banyak mengulas tema-tema metafisis teologis ketimbang hukum tidak memakai hermeunetika dengan pendekatan double movement yang lebih kepada kronologi historis akan tetapi dengan pendekatan Sintetis – Logis[25].

Disini sebenarnya sudah ada upaya untuk menentukan irisan yang lebih jelas agar distingsi tersebut diatas menjadi mengecil, saling melengkapi secara perlahan, hati-hati dan memerlukan waktu, pemikiran dari generassi kegenerasi agar menjadi jelaslah garis demargasi hermeunetika untuk “memperlakukan” al Qur’an.

F.    PENUTUP

Semula sebelum makalah ini ditulis, sebenarnya pemakalah ingin langsung mengoperasionalisasikan perangkat hermeunetika untuk menginterpretasi ayat-ayat tertentu dari al Qur’an, akan tetapi dalam proses “rekreasi intelektual” dengan berusaha membaca, mendalami dan mempertajam pisau bedah berupa hermeunetika dan ketika merasa waktunya untuk mengoperasionalkan alat bedah tersebut dan objek bedahnya adalah al Qur’an yang berbeda jauh dengan teks-teks biasa (selain al Qura’n) tersentak pemakalah merasa ada tahapan yang harus dilalui dan diselesaikan yaitu adanya problematika filosofis hermeunetika dalam menginterpretasikan al Qur’an dan pemakalah disadarkan dengan keberadaan pemakalah itu sendiri dan objek bacaan yang butuh ruang dan waktu tersendiri.

Referensi :

Tafsir, Ahmad, Filsafat Ilmu,Bandung; PT Remaja Rosda Karya,2007.

Kaelan, Filsafat Bahasa, Semiotika dan Hermeunetika,Yogyakarta: Paradigma, 2009.

Wahyudi,Yudian, Ushul Fikih Versus Hermeunetika, Yogyakarta;Pesantren Nawasea Press, 2006.

Al­Suyuti, Jalal al­Din, al­Itqan fi ulumil Qur’an, Beirut

Arkoun, Mohammad, Menuju Pendekatan Baru Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No 7, Vol II,  1990,

Abu  Zayd, Hamid, Nasr    , Mafhum   al­Nass:  Dirasah  fi  ‘Ulum  al-Qur’an  Beirut:  al-Markaz  al Thaqafi al-‘Arabi, edisi II, 1994,

Hidayat, komarudin, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeunetik.Jakarta: Paramadina 1996

Setiawan, Nur Kholis, Muhammad, al Qur’an Kitab Sastra Terbesar, Yogyakarta; eLSAQ Press, 2005,

Sibawaihi, Hermeunetika al Qur’an Fazrur Rohman, Yogyakarta; Jalasutra,2007.

Palmer, Richard E, Hermeunetika; Teori Baru Mengenai Interpretasi, Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1969

Poespoprodjo, W, Hermeunetika,Bandung; CV. Pustaka setia,2004, hal 80

Roni Subayu, “Membaca” Al Qur’an Bersama Roland Barthes, dalamJurnal Pesantren ciganjur Edisi 01/Th.I/2005.

Armas, Adnin, Filsafat Hermeneutika dan Dampaknya Terhadap Studi al­Qur’an.

MUCHIB AMAN ALY dalam http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com

Ruzbihan Hamdan,dalam http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com


[1] Pengajar Ponpes Minhajut Tholabah, Desa Kembangan Kecamatan Kabupten Purbalingga Jawa Tengah

[2] bagi kaum sunni al Asy’ary sebenarnya lahirnya ilmu kalam dengan seperangkat ta’wilnya adalah untuk menjawab kebutuhan pemaknaan ayat-ayat al Qur’an yang bersifat metafisik

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, (Bandung; PT Remaja Rosda Karya,2007). hal 18

[4] Lihatt Roni Subayu, “Membaca” Al Qur’an Bersama Roland Barthes, dalamJurnal Pesantren ciganjur Edisi 01/Th.I/2005.

[5] Kaelan, Filsafat Bahasa, Semiotika dan Hermeunetika, (Yogyakarta: Paradigma, 2009), hal. 263 -265

[6] Armas, Adnin, Filsafat Hermeneutika dan Dampaknya Terhadap Studi al­Qur’an.

[7] Wahyudi,Yudian, dalam pengantar; Ushul Fikih Versus Hermeunetika, (Yogyakarta;Pesantren Nawasea Press, 2006).

[8] al­Suyuti, Jalal al­Din, al­Itqan fi ulumil Qur’an, Beirut.hal. 854

[9] ibid.hal. 854

[11]  Mohammad Arkoun, Menuju Pendekatan Baru Islam, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No 7, Vol II, 1990, hal 82 – 83

[12] Nasr  Hamid  Abu  Zayd, Mafhum   al­Nass:  Dirasah  fi  ‘Ulum  al-Qur’an  (Beirut:  al-Markaz  al- Thaqafi al-‘Arabi, edisi II, 1994), hal 24

[13] Hidayat, komarudin, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeunetik. (Jakarta: Paramadina 1996).hal 5-9

[14] Setiawan, Muhammad Nur Kholis, al Qur’an Kitab sastra terbesar, (Yogyakarta; eLSAQ Press, 2005), hal 51-53

[15] Fazrur Rohman, lahir di Hazara Pakistan 21 September 1919, pemikir muslim neomodernis

[16] Sibawaihi, Hermeunetika al Qur’an Fazrur Rohman, (Yogyakarta; Jalasutra,2007). Hal. 11-12

[17] Palmer, Richard E, Hermeunetika; Teori Baru Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1969) hal. 14.

[18] Ibid. hal. 38.

[19] Hidayat, komarudin, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeunetik. (Jakarta: Paramadina 1996). hal 144

[21] Komarudin Hidayat, , Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeunetik. (Jakarta: Paramadina 1996). hal 154

[22] Poespoprodjo, W, Hermeunetika,(Bandung; CV. Pustaka setia,2004), hal 80

[23] Komarudin Hidayat, , Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeunetik. (Jakarta: Paramadina 1996). hal 195

[24] Wahyudi,Yudian, dalam pengantar; Ushul Fikih Versus Hermeunetika, (Yogyakarta;Pesantren Nawasea Press, 2006).

[25] Sibawaihi, dalam pengantar; Hermeunetika al Qur’an Fazrur Rohman, (Yogyakarta; Jalasutra,2007).

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s