Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

Ibadah Riya’

Tinggalkan komentar

Suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW seraya bertanya, “Apa pendapat Tuan tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mendapatkan pahala dan ingin terkenal? Apa yang ia dapatkan kelak di akhirat?” Nabi menjawab, “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Laki-laki itu mengulang pertanyaan yang sama sampai tiga kali. Namun, jawaban Rasulullah SAW tetap, “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan seseorang kecuali amal yang murni dan hanya mengharapakan ridhoNya”.
Betapa rugi seseorang yang berperang dengan mempertaruhkan nyawa, tetapi tidak mendapatkan pahala hanya karena tidak ikhlas, tidak mengharapkan ridho Allah. Begitu besarkah nilai ikhlas dalam ibadah seorang hamba?
Memang, ikhlas merupakan gerbang penentu diterima tidaknya amal ibadah seseorang. Ulama’ mengumpamakan amal manusia sebagai jasad, dan mengumpamakan ikhlas sebagai ruhnya. Beramal tanpa diiringi ikhlas, maka ibarat jasad tanpa ruh, mati namanya.
Ikhlas juga merupakan syarat qobul suatu amal. Ibadah seorang hamba yang sampai kepada Allah harus memenuhi tiga syarat; syarat wajib, syarat sah, dan syarat qobul. Jika seorang hamba beribadah dengan baik, memenuhi rukun dan syaratnya, maka ibadah tersebut sah menurut fiqih, tapi belum tentu diterima di sisi Allah SWT, masih harus dilihat ikhlas atau tidaknya ibadah itu.
Ikhlas
Menurut tingkatannya, ikhlas merupakan maqam terhormat bagi seorang hamba di sisi Allah, karena mukhlis (orang yang ikhlas) telah berhasil melampaui dua maqam sebelumnya; maqam ‘alim dan maqam ‘amil.
“Setiap manusia pasti akan rusak kecuali orang yang berilmu (‘alim). Setiap orang yang berilmu semuanya akan rusak kecuali orang yang mengamalkan ilmunya (‘amil). Setiap orang yang mengamalkan ilmunya semuanya akan rusak kecuali orang yang ikhlas (mukhlis). Dan orang yang ikhlas masih berada dalam kekhawatiran.” (al-hadits)
Lebih rinci, Imam Al-Ghozali RA membagi ikhlas menjadi dua macam; (1) beramal semata untnuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, mengagungkan perintahNya, tanpa maksud-maksud yang lain, dan (2) beramal untuk mengharap kemanfaatan akhirat dengan melakukan perbuatan baik.
Ikhlas juga ada tiga tingkatan. Pertama, ibadah dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Kedua, ibadah dengan tujuan mendapatkan pahala dari Allah SWT dan keselamatan diri dari siksa neraka. Dan ketiga, ibadah dengan tujuan agar Allah memberikan sesuatu yang bersifat duniawi.
Keutamaan Ikhlas
Tidak ada yang lebih berharga dan lebih agung selain ridho Allah. Dan ikhlas adalah jalan untuk mendapatkan ridho Allah tersebut (QS Al-Bayyinah: 5).
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa meninggalkan dunia dengan ikhlas karena Allah semata dan tiada menyekutukanNya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka dia meninggal dunia sedang Allah ridho kepadanya.” (dari Ibnu Hibban dari Anas RA)
Orang yang beribadah dengan ikhlas, maka Allah SWT akan menghilangkan setiap fitnah yang datang kepadanya. Logisnya, ketika orang itu berbuat ikhlas, dia akan lupa dengan semua nafsu dan semua angan-angan terhadap selain Allah. Dengan demikian dia akan selalu berada dalam pengamatan Allah. Maka tidak ada satu kekuatan pun yang mampu melawannya, karena dia berada dalam penjagaanNya.
Seorang mukhlis yakin benar bahwa cinta dunia adalah pokok segala kesalahan. Dunia adalah kelezatan sesaat yang akan segera sirna. Mengutamakan dunia dan berpaling dari akhirat adalah kebodohan yang amat sangat. Dunia itu kotor dan cepat sirna, sedangkan akhirat itu bersih dan kekal abadi. Manusia itu lemah, tidak dapat menguasai kemudharatan (bahaya) dan tidak dapat menarik kemanfaatan. Mengapa manusia dengan amalnya berbuat riya’ kepada sesamanya?
Riya’
Orang mungkin merasa ibadahnya sudah tepat dan benar, sholatnya panjang, bacaannya fasih, dan lain-lain. Tetapi ketika temannya lewat, hatinya pun berkata, “Ah , biar temanku tahu kalau aku khusyuk.” Tanpa sadar ia sebenarnya telah berbuat riya’. Bahkan ketika seseorang akan melakukan sholat, dilihatnya ada orang lain di masjid, kemudian dia mengurungkan niatnya untuk sholat, tapi dalam hatinya ia berkata, “Biar mereka tahu kalau aku tidak ingin riya’.” Ini pun masih dikatakan riya’ karena ada keinginan untuk dipuji orang lain. Riya’ itu sangat kecil dan samar bagai semut di atas batu hitam di malam kelam.
Apa itu riya’? Riya’ adalah lawan dari ikhlas. Orang dikatakan ikhlas jika ibadah yang dilakukannya ditujukan semata untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan mencari ridhoNya. Apabila ibadah tersebut dicampuri maksud-maksud duniawi, ingin dipuji orang misalnya, maka sifat inilah yang disebut riya’. Orang yang riya’ tidak akan mendapatkan pahala, bahkan dosa yang didapatnya. Di akhirat nanti dia dipanggil dengan sapaan, “Hai orang yang riya’, hai orang yang syirik, hai orang yang kafir,” dan tidak ada tempat bagi orang kafir kecuali neraka.
Bahaya Riya’
Walau hanya masalah kecil, namun bahaya riya’ sangatlah besar. Amal yang tanpa disertai ikhlas akan sia-sia bagaikan debu yang berhamburan tertiup angin, malah berbalaskan adzab Allah yang sangat pedih di akhirat nanti.
Rasul SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari kamu semua adalah syirik asghor (syirik kecil).” Para sahabat bertanya, “Apa syirik asghor itu?” Rasul SAW menjawab, “Riya’.” (dari Imam Ahmad dari Mahmud bin Labib)
Ulama’ membagi 5 kegiatan yang mudah terjangkit riya’. Pertama, kegiatan badan; seperti menundukkan kepala atau memejamkan mata agar disebut khusyuk. Kedua, berpakaian; seperti meninggikan sarung sampai betis supaya disebut melaksanakan sunnah Rasul, atau menggunakan pakaian lusuh supaya disebut orang sufi. Ketiga, perkataan; seperti menasihati atau berkata dengan lirih dan samar, menghujat kemungkaran dengan maksud agar disebut sebagai ulama’. Keempat, perbuatan; seperti memanjangkan berdiri atau ruku’ pada waktu sholat di depan orang banyak, tapi pada waktu tidak ada orang dia lakukan sebenarnya. Kelima, persahabatan; seperti berteman dengan orang-orang terkenal.
Begitu sulitkah memerangi virus riya’ itu? Tentu tidak, kalau kita berkenan mencapainya. Caranya? Sadarilah bahwa tidak ada yang dapat memberi manfaat dan madharat kecuali Allah SWT. Waspadalah setiap saat untuk menghapus riya’ dalam hati. Telitilah hati dari riya’ yang muncul. Tutup semua pintu hati agar tidak dimasuki riya’. Kemudian tepislah gerak hati ketika muncul riya’. Ingatlah bahwa amal ibadah yang seidkit tapi bersih tanpa riya’ dan ‘ujub lebih baik daripada amal ibadah banyak tapi dikotori oleh riya’ dan ‘ujub (Imam Al-Ghozali dalam Ihya’nya).
Hukum riya’ jelas haram untuk urusan ibadah yang disyariatkan untuk mengagungkan Allah. Sedangkan riya’ dalam perbuatan duniawi, seperti menunjukakn keahlian dalam pekerjaan tertentu, itu tidak haram, kerna tidak termasuk ibadah yang disyariatkan.
Macam Riya’
Menurut Imam Al-Ghozali, riya’ ada dua macam; (1) Riya’ mahdi (murni), yaitu bial dengan amal ibadah itu hanya semata-mata ingin mendapatkan imbalan duniawi saja, tidak yang lain, dan (2) Riya’ takhlith (campuran), artinya selain mengharap pahala akhirat juga mengharap imbalan duniawi, baik harapan duniawi lebih banyak atau harapan akhirat lebih banyak.
Sebenarnya, akal yang sehat dapat menerima pendapat tentang buruknya sifat riya’, karena ibadah itu sebenarnya adalah untuk mengagungkan Allah, untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya, dan untuk mendapatkan ridhoNya. Tidak selayaknya dijadikan sebagai media untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi, seperti pujian, prestise, derajat, atau pangkat dari manusia. hal ini karena manusia itu sangat subyektif, sesuai selera masing-masing. Andaikan kita beribadah igin mendapat sesuatu dari seseorang, baik berupa penghargaan atau barang, belum tentu dia mau memberikannya. Rugi kita, amal ibadah tidak diterima, balas jasa yang kita idamkan tidak didapat.
Selanjutnya, di antara tanda-tanda riya’ seseorang adalah jika senang bila orang lain melihat dirinya melakukan ketaatan, senang jika manusia mengagungkannya, senang jika manusia berlomba-lomba memenuhi kebutuhannya, senang jika manusia memberi kemudahan kepadanya tentang urusan perdagangan misalnya, atau senang jika manusia memberi tempat terhormat ketika dia datang, dan sebagainya.
Akhirnya, patutlah kita renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Az-Zuhd, juz 18 hlm 115, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang sama sekali tidak memerlukan sekutu-sekutu. Maka, barang siapa mengerjakan suatu amal yang menyekutukan Aku dengan selain Aku, dia akan kutinggalkan dengan sekutunya.’”
Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadaMu dari mempersekutukan sesuatu denganMu sedangkan aku mengetahui. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang kuperbuat karena riiya’. Amin.

 

(alfaqir;ms)

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s