Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

SESUNGGUHNYA ALLOH BERSAMA SHOBIRIIN…

Tinggalkan komentar

Sebelumnya Minta Maaf yg sebesar”nya, saya meng-inisialkan nama sesungguhnya. Tapi ini kisah nyata yg terjadi. Siapapun pelakunya Er-Ha-Es.
Selamat Memmbaca, semoga bermanfangat.

===== Kini aku tinggal di kota santri. Disini banyak orang dimana-mana, memakai sarung peci. Sudah maklum, kalau orang sudah dikatakan tua, dia selalu tak lepas dari peci. Dari pedagang ayam, sampai calo motor mengenakan peci. Tiap pagi, sore, dan malam hari, selalu kita lihat santri-santri di mushola, masjid, pesantren, surau untuk mengaji.
Remaja pemuda sangat fasih melantunkan ayat-ayat al-Qur’an. Pengetahuan mereka tentang ‘agama’ rata-rata mumpuni. Pagi buta, anak-anak berlarian saling berebut antrian untuk mengaji kepada kiai. Sebelum mengaji mereka berbaris mengharap uluran tangan Kiai untuk bersalaman secara mengantri.
Menyengat harum aroma tangan Kiai. Aroma Parfum ini aku cari di toko kitab bernama parfum malaikat subuh. Sangat cocok menghiasi aroma tubuh kiai di pagi hari. Disaku kiai selalu ada sebotol kecil parfum malaikat subuh ini. Sering beliau mengeluarkan parfum, kemudian mengusap-usapkan tangannya ke pakaian teman-teman santri. Kiai selalu mengusap-usap kepala anak yang mengaji. Bagi yang datang terlambat akan segera mengambil tangan kiai untuk diciumi.
Untuk hari-hari tertentu kita musti memakai celak. Itu anjuran kiai karena merupakan sunah rasul. Kiai biasa memberi celak, kadang parfum untuk anak yang tak pernah memakai parfum-celak. Membawa uang sekedarnya tiap hari kamis biasa disebut sebagai Kamisan sekedar untuk bisyaroh kiai.
Matahari mulai menyembul diantara ranting-ranting pohon sawo dan mahoni. Burung-burung mulai berhamburan dengan kicau memecah sepi. Kampung halaman yang asri. Selalu memancarkan keramahan penghuni. Sahut sapa selalu tampak dari wajah tua muda, di kanan kiri kebun-kebun mengitari rumah-rumah kami. Tiap rumah berhalaman luas, yang ditumbuhi pohon sawo yang usianya telah puluhan tahun. Juga tumbuhan optik hidup, diantara banyak pohon sirih melambai, harum melati semerbak dari bunga yang mekar karena taburan embun pagi. Kokok ayam bersahutan, berhamburan saling mengejar untuk merencanakan esok hari. Banyak gadis-gadis membersihkan halaman rumahnya, dengan sapu lidi.
Adem ayem tentrem, itulah gambaran desaku. Kloyong-kloyong entuk gong, tenguk-tenguk entuk getuk, kata simbah dulu untuk menggambarkan kesejahteraan kampungku.
Yang menjadi aneh bagi penduduk desa lainnya adalah hampir seratus delapan puluh kepala keluarga masih belum ada TV di rumah-rumah mereka. “selepas magrib kita masih mudah untuk ngaji, tanpa godaan TV” aku tetanggaku dengan bangga. TV bukan teman yang baik bagi kami. Bahkan sangat biasa bertahun-tahun tak pernah nonton TV.
Selepas sekolah, kita bermain permainan yang masih musim. Bisa layang-layang, tulup-tulupan, bal-balan, gledekan, timpalan, nekeran, atau pris-prisan. Permainan-permainan itu telah menyita waktu kita. Hingga kita tak kan pernah mengingat TV semenitpun. Sampai jelang ashar melaksanakan shalat dan berangkat untuk diniahan. Di sana kita bakal bertemu dengan para Ustadz muda yang gampang marah. Yang senyumnya selalu mahal untuk anak-anak mbeling. Siap-siap untuk menghafal baris-baris nadzam aneh. Kadang berbahasa arab, kadang jawa tua. Kita musti menghafal nadzam yang sampai sekarang tak kita pahami isinya. Bila tak hafal siapkanlah wajahmu untuk di lulur pakai debu kapur dan berdiri hingga bel pulang berbunyi. Rayakan kekalahan itu dengan umpatan, karena sesungguhnya engkau telah didlalimi.
Selepas maghrib kita berduyun menetap di mushola untuk sorogan kitab tarajumah, dan al-Qur’an. Untuk melepas kepenatan sering kita nyolong-nyolong untuk bergurau di pelataran mushola. Hidup adalah senda gurau dan kebahagiaan, tanpa beban, tanpa berpikir panjang, tentang masa depan, itulah yang tergambar saat kita baru berusia remaja.
Selepas lebaran mulai banyak keluarga menyelenggarakan hajatan. Ada yang sunatan, nikahan, sampai beberapa momen silaturahmi seperti halal-bihalal. Nuansa keharmonisan Kampungku mulai banyak ghibah bertebaran di sembarangan tempat. Kadang di majlis pengajian. Di majlis tahlian ibu-ibu. Sampai di warung kopi tempat nyangkruk pemuda. Setiap orang berkumpul berbau aroma rerasan dan ngrasani. “pemuda kemarin sore, sudah mentang-mentang bikin ulah.” Cletuk salah seorang yang dituakan dikampungku. Baru beberapa bulan Sobirin menginjakkan kaki di kampung halamannya. Tetapi orang-orang, terutama para kiai merasa gerah dengan kehadirannya.
Sobirin pemuda yang selalu gelisah memperjuangkan nilai-nilai yang ia yakini benar. Walau kadang banyak orang tua yang tak sependapat, Sobirin tetap saja memperjuangkan ide-idenya agar menjadi kenyataan. Baginya perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Pengajian pagi yang biasa diisi oleh rezim kiai-kiai, ia selalu usulkan di depan majlis, agar metodenya diganti dengan sistem dialogis.
Ia merasa bahwa banyak pemuda yang tak diwongke, para mantan pengembara ilmu itu tak pernah ditanyakan ilmu pengetahuan dan pengalaman mereka di tanah rantau. karena setelah jauh mengembara mencari ilmu dan pengalaman, dikampung halaman pemuda-pemuda tidak mendapat tempat yang layak. Kapling-kapling forum masih menjadi monopoli para kiai. Hanya yang tua yang bisa bersuara. Anak muda selamanya mendengarkan. Sobirin walaupun berarti orang yang sabar, tetapi hatinya gundah hanya melihat kenyataan semacam itu. Sobirin membantah, “tak hanya itu! Banyak yang harus di rubah dari masyarakat, karena budaya feodal, fanatisme, dan pemberhalaan-pemberhalaan terhadap banyak hal.”
“bukankah kita semua ini sumur, bukan timba?” ujar Sobirin bersemangat mengusulkan agar sistem pengajian dirubah metode, bukan jipeng (ngaji kuping) lagi, tetapi secara beruntun masing-masing hadirin hadirat bisa mengutarakan masalah-masalah keseharian, agar bisa dicarikan solusinya dalam pengajian. “Pengajian harus dialogis untuk mencapai solusi, dan bermuatan budaya,” dengan suara lantang Sobirin menyuarakan semangatnya. “maksudnya muatan budaya itu apa?” tanya salah satu hadirin. “ya ngajinya tak hanya merujuk kepada kitab, tetapi harus menampilkan karya-karya teman-teman di kampung ini, entah berupa puisi, pantun, parikan, lagu, cerita, rebana, marawis, jiduran, dan bisa juga humor.” Suara gemuruh hadirin tak setuju menanggapi ide sobirin sangat kentara. Ada yang bersuara tak setuju “kalau itu namanya bukan pengajian, tapi jatilan…” disambut tawa para hadirin.
Wajah sobirin, agak memerah. Untuk menenangkan diri, Sobirin menatap para hadirin yang duduk melingkar. Tetapi dasar sobirin, ia tetap bersabar memperjuangkan ide-idenya. “ya udah kita usulkan agar cara pengajiannya dirubah dengan cara dialog, bukan monolog lagi. Juga nanti secara bergilir para Ustadz muda akan mengisi jadwal pengajian secara bergilir.”
Kiai yang hadir dalam majlis itu unjuk jari, “mohon maaf saudara Sobirin, pengajian pagi selepas subuh ini bukan pengajian layaknya dialog interaktif di TV, tetapi pengajian ini adalah pengantar bekal para bapak ibu untuk hidup waspada, hidup tenang, mengetahui syarat rukun beribadah, itu sudah cukup bagi mereka, Bagi banyak jamaah pengajian, tujuan datang ke majlis taklim, kadang tak lain hanya mencari ganjaran. Maka menangkap atau tidaknya materi pengajian adalah kurang penting. Bukankah begitu bapak ibu?” Hadirin setentak mengucapkan “injih..” sudah beberapa kali wajah Sobirin merah, karena agaknya ide-idenya alot diperjuangkan di muka majlis.
“sebelumnya mohon maaf kepada para hadirin, terutama Bapak Kiai. Ide saya ini berangkat dari pengamatan saya terhadap majlis taklim fajar. Kebanyakan hadirin terkantuk-kantuk terlihat tak ada minat memperhatikan apa yang disampaikan pembicara. Hal ini disebabkan, kalau menurut saya kebosanan mereka pada pembicara, atau materi yang disampaikan. Maka terobosan ide ini merupakan langkah mengatasi kejenuhan dan kebosanan itu.” Sobirin tetap sabar, karena ia merasa bersama Allah. Maklum beliau baru saja membaca ayat “innallaha ma’a shaabirin” sesungguhnya Allah bersama sobirin.
“udah begini aja Mas Sobirin,” Pak Safar mencoba menengahi. “lebih baik Mas Sobirin bikin forum sendiri, entah forum dialog, bahsul masail, atau apapun yang sifatnya dialogis seperti yang diusulkan Mas tadi. Saya yakin pemuda-pemuda sangat senang mengapresiasi forum yang menyelenggarakan suara mereka.” Hadirin langsung menyambut dengan berbagai macam suara, “iya Mas…begitu aja, ketimbang ganggu yang sudah adem ayem…” ada suara lagi “…aaaahhh..gitu aja repot..” “priye tho rin kowe ikiu…” sampai Pak Kiai menenangkan, “udah…udah….bagaimana dik Sobirin usulan Pak Safar tadi bisa diterima?”
“oooo….iya..iya Pak, Insya Allah kami pikirkan pelaksanaannya..”
Majlis yang tiba-tiba menjadi biang rame segera ditutup dengan doa penutup majlis. Sobirin tertunduk agak lesu, dengan senyum kecut yang tergurat dibibir. Pak Safar mendekatinya dan menepuk pundaknya. “ide-ide mu itu bagus, tetapi mungkin masyarakat belum bisa menerima ide yang terlalu maju, kecuali teman-teman yang juga berjiwa segenerasi dengan kamu Rin…” Sobirin mengangguk-angguk seperti merasa diperhatikan dan dihargai apa yang ia ungkapkan. “bagus…minimal kau sudah menyampaikan suara hati. Suara hati jangan sampai kau pendam, karena gak baik di badan, bisa jadi demam.” Pak Safar mengelus-elus pundak Sobirin.
“apa ide-ide Mu lagi Mas? Barangkali aku bisa membantu mewujudkannya, karena ide pemuda adalah ide perubahan.” Darah Sobirin seperti diuapi, ia merasakan ada desiran rasa bahagia dalam hati, pikirnya kok ada orang yang menanyakan ide-idenya dan bersedia membantunya. Itu yang ditunggu-tunggu dari dulu-dulu. Karena dalam doktrin pikirannya, pemuda harus jadi pelopor perubahan masyarakat.
“oh begini Pak, kalau bisa di Mushola ini ada perpustakaannya, dan tiap bulan diadakan mading, majalah dinding, kalau perlu depan mushola di kasih koran dinding.” Birin mengutarakan beberapa idenya. “ide yang bagus Rin. Kamu menghendaki masyarakat, tetanggamu menjadi manusia-manusia melek pengetahuan dan informasi. Kamu menghendaki kebaikan Rin, maka teman-teman harus mendukung ide-ide cemerlangmu itu.” Tukas Pak Safar “caranya kamu memang harus bikin forum remaja dan pemuda untuk membuat kegiatan-kegiatan yang baik.”
Malam sudah begitu larut. Rentangan mendung masih sangat jelas. Bulan yang purnama agak malu-malu menampakkan wajahnya. Sobirin masih saja di Mushola. Ia dikenal sangat rajin di mushola, karena dirumah tak mempunyai kamar sendiri. Ia harus terus bersabar, karena kadang ibu-ibu sering menanyakan, “kapan sobirin nikah?” Sobirin menjawab kecut, “nunggu kamarnya jadi”
Keluarga Sobirin banyak, sampai empat belas anak. Hingga sebesar itu Sobirin tak pernah punya kamar sendiri. Ia tidur dimanapun saat mata mulai lelah menatap dunia. Sejak kecil ia menikmati tidur di mushola, atau di gotakan-gotakan para santri. Tiap pagi ia bagun untuk menyapu pelataran mushola yang penuh daun dan rogolan kembang jambu biji. Ia juga tak sungkan memenuhi air kolam yang ia ambil dari air sumur. Bunyi derit kerekan timba selalu terdengar pagi sore. Pasti si Sobirin yang penuh semangat untuk memenuhi kolam dengan air. Beberapa tetes malaikat penjaga air wudlumu diolah dari keringat kesabaran sobirin.
Suara adzannya melengking tiap saat. Shalawat tarkhim tiap jelang subuh dilantunkannya, hingga pujian syarat rukun ia kumandangkan. Semua penduduk kampung mengerti arti penting kehadiran Sobirin. Tetapi kini Sobirin telah berubah menjadi Sobirin yang penuh ide, ngomongnya seperti pakar LIPI. Juga kadang kurang hormat kepada para tetua di kampung ini.
Beralas karpet hijau yang terlihat menua. Sobirin merebahkan tubuhnya. ia menghela nafas panjang, sambil menerawangkan pandangannya ke arah jendela yang masih menganga menghantarkan semilir udara yang dingin dan cahaya temaram dari lampu sepuluh watt.
“ya…dari dulu aku mengabdi kepada orang kampung. Aku mengurus segala kebutuhan beribadah di mushola ini. Aku ikhlas melakukannya. Dan mushola ini juga yang sudah kuanggap sebagai rumahku sendiri. Tiap pagi, siang dan sore hari aku bersemayam di mushola ini. Sesekali ku tinggal, untuk mencari ilmu mengikuti kejar paket B sampai C. Sampai kini aku lulus dari Universitas. Masih saja aku belum punya kamar sendiri, belum punya motor sendiri, yang lebih merisaukan lagi aku belum menikah.”
Tentu banyak perawan yang mengantri, karena kegantengan wajah Sobirin. Juga kengalahan abdinya tak tulus. Tetapi Sobirin selalu mengingatkan pada setiap gadis yang mengulurkan janur hatinya bahwa dirinya belum punya arena tempur untuk malam pertama. Ia bukan pemalas yang tak mau usaha. Bekerja menggali kuburan termasuk etos manusia rajin. Menjadi penarik gerobak sampah juga lahan kesempatan baginya mengumpulkan pundi untuk merancang masa depan. Tetapi setiap rupiah yang terkumpul pasti berujung pada kebutuhan saudara-saudaranya yang tak habis-habisnya.
Sobirin hanya menghela nafas panjang dan hatinya selalu bersyukur, “aku memang dicipta sebagai manusia paripurna, insan kamil.” Setiap apapun yang bermuara padaku, selalu bermanfaat bagi siapa saja. Khairun nas anfaahum linnas. Tapi hati dewasanya melenguh “ah nisa…, walau ranum manis wajahmu mengusik derik nafas hatiku. Tapi sudahlah… engkau cukup sebagai sahabat yang menggerakkan mulutku tersenyum saat kesunyian datang. Wajahmu selalu membias, sayang aku tak mampu melukiskan dalam kanvas. Senyummu memanggil, sayang aku tak dapat mengail. Lembut suaramu mengusik hati, tapi pupus sudah semua harapan ini..”
Kemudian ia tercenung, tapi ia menyangkal, “Ah sesungguhnya manusia hanya mengejar celah sepele diantara dua paha. Termasuk engkau Sobirin… beda bentuk, tapi kata orang rasanya sama. ah… pikiran yang terlalu remeh. Memikirkan sesuatu yang menjijikkan apalagi memikirkan diri sendiri untuk memiliki dunia ini. Didunia ini tak ada milik dan kepemilikan, karena pada hakekatnya semua miliknya Allah.” Ia selalu menghibur diri untuk tenang dalam kemiskinannya.
“tapi kamu masih saja miskin Rin…” suara seakan datang dari kejauhan melecut matanya yang barusan mengatup. “kamu harus pergi merantau ke kota, untuk merubah hidupmu…” ia terusik dan terusik lagi. Hingga ia memaksakan bangun tubuhnya, kemudian mengambil air untuk wudlu dan melakukan shalat. “ya Allah. Kenapa akhir-akhir ini hatiku gelisah, karena dari dulu aku tetap begini-begini saja. Teman-temanku sudah berangkat menikah, sudah mulai melengkapi dirinya sendiri dengan berbagai barang-barang dan materi-materi. Aku masih saja tak berbuat untuk diri sendiri. Bisyarohku dari mushola hanya mampu memenuhi kebutuhan ongkos pendidikan dua adikku. Orang mati hanya kadang-kadang ya Allah. Tapi alhamdulillah gerobak sampah masih saja terus jalan. Itupun masih terkuras untuk biaya segala kebutuhan keluarga.
Sobirin tergelepar lagi. Matanya sudah berat. Ia harus tidur, karena besok harus berangkat dinas mengantar sampah ke Tempat Pembuangan Akhir. Pagi pukul tiga dini hari, cangkul sobirin yang biasa untuk menanam mayat bersuara. “tttttiiiiiiinnnnnggggg…” Dentingannya begitu keras. “ting, ting, …” sobirin terjingkat kaget. “innalillahi wainna ilaihi rajiun…siapa lagi yang akan mangkat ini.” ia terbangun bersandar ke dinding mendengar dentingan kerasnya suara cangkul dan arit beradu. Keringat dinginnya keluar bercucuran. Ia bertahlil “laa ilaaha illallah..” untuk menenangkan diri. Hatinya terusik lagi sambil mengingat-ingat siapa penduduk yang sedang sakit saat ini.
Si fajar yang juga tidur tak jauh dari Sobirin juga terbangun. “ada apa kang…kok kayak ada bunyi suara dentingan dari sumur…” “ssssttttt….sini fajar. Gak pa-pa itu bunyi cangkulku…” langsung Fajar lari ke arah Sobirin. Ia sangat takut, karena sudah dikenal kalau ada suara dentingan cangkul Sobirin itu pertanda besok ada orang yang akan meninggal.
“suara itu pertanda kabar baik, atau kabar buruk kang?” tanya fajar, sambil memeluk sobirin dan mengumpat di dalam sarungnya. “ssssttttt…diam-diam jangan berisik, nanti tetangga pada bangun. Tidurlah disampingku, semua orang pasti mati, jadi jangan takut mati, tapi bersiaplah untuk mati…”
“itu tadi suara membawa kabar baik sekaligus buruk.” jawab birin beberapa saat kemudian. “kabar baiknya, besok berarti aku akan menggali kubur, tentu aku mendapatkan upah, dan selama satu minggu aku terus mendapatkan upah atur-atur tahlilan atau yasinan. Juga kabar baiknya lagi. Aku selama satu minggu tak harus cari sarapan. Karena sudah dijamin oleh keluarga sohibul musibah. Kabar buruknya, tentu saudara kita atau tetangga kita akan mengalami kesedihan, karena salah satu keluarganya dipercepat Allah untuk sowan menghadap…”
“oooohhhh…ya…kabar baiknya lagi…aku jadi ingat mati lagi…jadi gak ingin kawin…”
Untuk menghentikan dentingan cangkulnya Sobirin bangun dan wudlu. Selepas kemudian cangkul berhenti berdenting. Lalu sobirin menunaikan shalat dua rakaat. Ia mulai mendendangkan shalawat tarkhim. Ashalatuwassalamu alaik….ya imamal mujahidin….ya rasulallah ….
Suara sobirin melengking dibawa angin menebar malaikat-malaikat
Shalawat dan salam untukMu, wahai imamnya para pejuang
Wahai Rasulullah. Ia meneteskan air mata dalam hatinya bertanya, “apakah aku termasuk pejuang? Apa perjuanganku dan bagaimana? Apakah aku termasuk dalam barisan shaf makmummu ya Rasulullah?”
Ashalatuwassalamu alaik ya nashiral haqqi ya khaira khalqillah
Shalawat dan salam bagiMu Wahai penolong kebenaran, wahai sebaik-baiknya ciptaan Allah. Tetesan air matanya semakin deras. Mulutnya terbata mengeja kata, “apakah aku termasuk penolong? Kadang aku menolong, tapi menguburkan orang yang dicintai, orang yang dihormati. Menguburkan banyak kesedihan, kebanggaan, kesombongan. Apakah menguburkan orang termasuk kebenaran? Matanya mulai sembab, air mata sedih mengalir di pipinya. Ya Rasulallah…apakah aku termasuk dalam barisan shaf pengikutmu…”
bersambung, INSYA ALLOH…

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s