Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah

Fatwa Kentongan Masjid Al-Kisruh

Tinggalkan komentar

====== Alkisah beberapa tahun yg lalui dimasjid Al-kisruh(jama’ah memberi alias nama masjid yang sebenarnya namanya adalah B. Arrohman) karena di masjid ini sering terjadi kisruh(rusuh) atau ribut-ribut, ada saja yang diributkan.Bahkan pernah suatu ketika kenthongan dan bedugnya berjalan sendiri….. alias kebawa manusia yang iseng. masjid yang jumlah jama’ahnya sebanyak 1 dusun, kyainya 3 orang,ustadz mudanya jg ckp banyak, 2 orang jebolan Universitas,meski pun masuk kefakultas yang kata orang sekedar untuk isi-isi saking tidak lakunya itu jurusan, hingga banyak yang digratiskan. ada beberapa ustadz yg murni lulusan pesantren, 2 orang tergolong benar-benar ‘alim,sisanya setengah ‘alim, sisanya lg sok alim. he he he…..

Dimasjid Al-kisruh,masalah mukul kentongan penanda masuk waktu sholat saja tidak sembarangan orang yang boleh menabuh, sudah ada jadwal yang tertulis,dan semuanya dari keluarga kyai atau ustadz. Pernah kang parlan iseng-iseng memukul kenthongan dengan batu,karena si “pemukul” yang tertera dijadwal tidak hadir-hadir dan pemukul kentongan dibawa olehnya(sesuai peraturan) yang memukul terakhir harus menyerahkan pemukul ke orang yang dapat jadwal berikutnya. Kang parlan dimaki habis-haabisan,katanya irama pukulannya tidak pas, tidak sesuai dengan piwulang (ajaran) orang tua-tua dahulu.

“heran masa’ mukul kentongan saja ada fatwanya?” gerutu kang parlan

“wis men lah  kang ! buat peringatan, lain kali mukul kaca saja” kataku guyonan

“dengkulmu mlocot,wis ga usah mrongos,cengengesan,ayo pulang”

 

Kang parlan langsung mengajak pulang setelah dapat

santapan ruhani” perihal fatwa pemukul kentongan seusai sholat jama’ah, dalam perjalanan pulang kami masih bercanda soal fatwa kentongan. Kami penasaran apa iya ada sesepuh jaman dulu yang memberikan fatwa soal irama kentongan? kalau benar-benar ada,mengapa saat ditanya mana catatannya? koq tidak dijawab, malah semakin menyudutkan dengan menghakimi “kamu tidak percaya dan melawan fatwa para sesepuh?”.

“mungkin memang ada fatwa itu kang?”

“koq ndak dikasih bukti tertulisnya?”

“mungkin saja ada fatwa tertulisnya,tapi hilang,jaman dulu kan belum ada foto kopi,jadi tidak ada duplikatnya,beda dengan sekarang,apa saja bisa dikopi,duplikat,jangankan dokumen lha wong bojo wae ono duplikate koq kang”.

“bener juga kamu lee,tapi mbok yo ngomong “hilang” gitu kan enak?”

“yo mungkin masih dicari-cari,mungkin terselip dimana gitu”

“mbuh lah… kadang aku berpikir,jangan-jangan fatwa kentongan ini hanya dalih untuk melarang orang-orang awam seperti kita beraktifitas di masjid, kecuali sholat jadi makmum,ta’lim jadi pendengar,yang cuma bisa bilang “nggih….leres….setuju” atau kalau kyai baca dalil qur’an dengan irama seperti mu’amar kita bareng-bareng ” ALLAH”. Selain itu ddilarang keras”.

“wis ah kang puasa-puasa ga usah omong beginian,sekarang kita pulang ke rumah masing-masing, nanti waktu sholat ashar kita ke masjid, tapi nunggu adzan dulu,biar tidak kena “musibah” lagi. Kang parlan hanya mengangkat dua jempolnya sambil ngeloyor pergi meningalkan aku.

Setelah malam tiba sehabis tarawih, kang parlan mengajak saya ke rumah seorang kyai sepuh lain kampung, tujuannya bertanya soal fatwa kentongan,rupanya kang parlan masih penasaran. Setelah memaparkan panjang lebar, giliran pak kyai menjawab.

“kamu juga kurang pas lan,harusnya yang kamu tanyakan itu bukan tulisan fatwanya,tapi isinya”

“nggih yai,justru saya menanyakan tulisannya karena ingin tahu isinya”

“maksud saya,memukul kentongan kentongan yang sesuai fatwa sesepuh itu yang bagaimana?biar kami-kami yang muda-muda tahu dan tidak salah lagi, mohon bimbing kami”

“oh…. inggih yai, matur nuwun atas ilmunya”

kami pamit, dalam perjalanan kami sama-sama diam, ternyata kami juga salah, yang penting bukan soal bukti fatwanya,tapi isinya itu yang lebih penting untuk ditanyakan.

Penulis: minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s