Pontren MINHAJUT THOLABAH Kembangan Bukateja Purbalingga

Mencetak Generasi yang Islamy, Intelektual, Berakhlaqul karimah dan berwawasan Ahlussunnah Wal Jama'ah


Tinggalkan komentar

HISAB AWAL WAKTU SHOLAT

sesuai dengan firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. maka sesungguhnya waktu sholat selain menggunakan tanda-tanda alam, dapat pula diketahui melalui hisab atau perhitungan. dalam ilmu falak waktu sholat ini dapat diperhitungkan melalui hisab awal waktu sholat dengan berbagai macam hisab.

Baca lebih lanjut


1 Komentar

Korelasi Tauhid dengan Ibadah

  1. Pengertian aqidah

Secara terminologi, aqidah berasal dari kata ‘Aqd yang artinya pengikatan, maksudnya adalah mengikat hati kepada sesuatu hal. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang atau kepercayaan hati dan pembenaran terhadap sesuatu.[1] Menurut  M Hasbi Ash Shiddiqi dalam bukunya “Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam” aqidah menurut ketentuan bahasa adalah sesuatu yang dipegang teguh dan terhujam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih padanya. Disini tak ada perbedaan baik aqidah tersebut  tumbuh karena meniru atau meneladani orang tua (masyarakat) ataupun  tumbuh karena suatu anggapan dan atau tumbuh dikarenakan sesuatu dalil aqli yang diyakini kebenarannya.[2] Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

EKSISTENSI PESANTREN DI TENGAH MASYARAKAT

EKSISTENSI PESANTREN DI TENGAH MASYARAKAT

Pesantren ini berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran an yang berarti tempat tinggal bagi seorang santri.  Dalam kamus besar Bahasa Indonesia pesantren di artikan sebagai asrama santri atau tempat seseorang belajar mengaji. Secara umum pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dimana para santri tinggal di pondok (asrama) dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara mendalam serta mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan pendidikan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Namun definisi tersebut tidak berarti konkrit karena pondok pesantren secara definisi tidak dapat diberikan batasan yang tegas karena mengandung makna yang fleksibel sesuai dengan ciri-ciri yang terdapat padanya.

Pondok pesantren memberikan pengajaran yang komplit tidak hanya pelajaran umum seperti pada lembaga-lembaga pengajaran yang lainnya. Sistem pengajaran yang ditawarkan oleh pesantrenpun tak kalah bagusnya dengan pEndidikan umum lainnya. Pesantren mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan mulai dari umum, agama, dan lainnya. Pesantren banyak memberikan pengajaran moral yang sulit dilaksanakan oleh lembaga pendidikan lainnya.

Walaupun begitu namun terkadang pesantren dianggap sebelah mata oleh beberapa kalangan. Banyak orang mengganggap pesantren sebagai sarang terorisme, sumber radikalisme dan sebagainya. Mereka mengganggap dengan adanya pengeboman-pengeboman yang terjadi merupakan aksi anarkhis yang berasal dari pendidikan pesantren. Namun jika ditelaahi lebih mendalam pada dasarnya bukan seperti anggapan orang yang di namakan pesantren itu.

Aksi pengeboman, radikalisme dan sebagainya itu bukanlah berasal dari pendidikan yang ada dalam pesantren hanya saja orang-orang yang radikal tersebut menggemborkan dirinya sebagai seseorang yang benar dan mengetahui mendalam tentang agama dan sebagainya, penampilannya juga mnyerupai penampilan santri pada umumnya sehingga banyak kalangan yang memandang pesantren sebagai ajang atau tempat pengajaran yang demikia karena mereka hanya melihat satu sisi tanpa menghiraukan sisi yang lain.

Selain anggapan tersebut juga mengakibatkan banyak orang yang enggan masuk ke pesantren karena alasan tersebut juga karena alasan masa depan. Banyak masyarakat yang berpendapat bahwa pesantren hanya mencetak generasi yang pandai dalam hal agama namun tak mengerti urusan dunia luar, kerja susah, tidak melek teknologi dan sebagainya. Pendapat seperti itu yang perlu ditampis oleh kita sebagai kalangan pesantren.

Jika kita lihat banyak pejabat yang berasal dari pesantren, banyak pengusaha yang berasal dari pesantren, guru berasal dari pesantren. Banyak pembesar-pembesar agama dan Negara yang berasal dari pesantren, sebut saja Gus Dur, KH. Ahmad Dahlan dan lainnya. Orang-orang tersebut yang berasal dari pesantren banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran yang dapat mecerdaskan bangsa kita ini. Misalnya sajadengan bekal ilmu dari pondok pesantren dia  mampu memimpin bangsa Indonesia selama beberapa tahun. Tak hanya Alm. Gus Dur masih banyak lagi para pemikir dan pembaharu bangsa yang berasal dari pesantren. Individu-individu yang notabene berasal dari pesantren ini tak kalah saing dengan individu yang notabene dari pendidikan yang berkualitas sekalipun.

Hal-hal sperti diatas dapat menampis anggapan banyak orang yang menjustice pesantren sebagai lembaga pendidikan agama saja. Karena pada dasarnya pesantren tidak hanya mengajarkan pendidikan agama namun juga pendidikan umum, dengan tambahan pendidikan moral dan perilaku yang tidak ada pada lembaga-lembaga pendidikan lain. Alumni pondok pesantren pun dapat memimpin umat dengan baik karena mempunyai basic pengajaran moral yang tidak di miliki oleh individu-individu yang lain. Karena pendidikan umum, agama, masih gampang namun untuk pendidikan moral sangatlah sulit.

Dengan melihat adanya pejabat-pejabat pemerintahan yang merupakan alumni pondok pesantren ini juga dapat menampis anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa santri itu tak dapat memiliki pekerjaan yang layak karena hidupnya hanya mengkaji kitab-kitab dan lainnya. Kita ketahui banyak menteri yang berasal dari pesantren dan banyak pula alumni pondok pesantren yang dapat mengenyam pendidikan tinggi dan menyumbangkan pemikiran untuk membangun bangsa Indonesia ini.

Demikianlah keberadaan pondok pesantren yang sering di pandang sebelah mata oleh beberapa kalangan. Namun pesantren juga banyak memberikan sumbangsih yang besar untuk kemajuan negeri ini melalui beberapa pendidikan yang ada dan pemikiran-pemikiran yang berasal dari kalangan santri. Oleh karena itu kita sebagai santri harus bangga dengan identitas santri kita juga harus mempertahankan jati diri kita sebagai santri karena apa yang kita miliki sebagai santri tidaklah di miliki oleh banyak orang. Dan sebagai santri kita pun harus bekerja keras untuk tetap mempertahankan keeksistensian pesantren dengan baik dan berusaha  memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan Negeri kita tercinta.

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

ANTARA KETIBAN ILMU DAN MENUNTUT ILMU

Semakin maju teknologi elektronik semakin beragam bentuk media yang hadir di depan kita. Jika zaman dahulu belajar dan berita ditularkan dengan amat lambatnya, sekarang semuanya serba cepat. Siapa lebih cepat, dialah yang dapat. Maka mengenallah kita berbagai acara langsung yang seolah tidak berjarak lagi antara watu kejadian nyata dan informasi yang kita terima.
Kemajuan ini sangat berpengaruh sekali pada berbagai lini kehidupan. Mulai dari sistem pembelajaran yang dikenal denga istilah e-learning, sisi administrasi ada e-KTP demikian juga dalam dunia dakwah.
Bagi sebagian orang yang percaya akan mitos teknologi dan obyektivitas media, menanggapi kemajuan ini dengan penuh keriangan karena hal tersebut meringankan kewajiban dalam mencari ilmu ‘thalabul ilmi’ sebagaimana seruan Rasulullah saw yang telah masyhur ‘uthlubul ilma wa lau bis-shin’ carilah ilmu sampai negeri cina.
Benarkah demikian? cukupkah criteria mencari ilmu itu hanya dengan duduk-duduk di depan televisi sambil minum teh dan menyimak para ustadz berceramah? Atau dengan memainkan mouse di depan computer secara oline dan menziarahi berbagai situs Islam? cukupkan semua itu?
Mengenai gambaran ini Muallim KH. Syafi’I Hadzami pernah mengatakannya sebagai ketiban ilmu bukan mencari ilmu(thalabul ilmi). Memang mendengarkan berbagai materi dakwah melalui media apapun merupakan amal baik dan insyaallah banyak memberi manfaat. Namun jika caranya seperti gambaran di atas tanpa ada usaha yang ‘merpotkan’ itu belum layak disebut mencari atau menuntut ilmu, mengaji, juga bukan thalabul ilmi. Karena sesungguhnya thalabul ilmi itu mensyaratkan wujudnya seorang guru yang akan membimbing dan mengarahkan serta memberikan sui tauladan praktis (aplikatif) dalam dunia nyata. Atau dalam bahasa jawa yang bisa digugu dan ditiru (bisa didengarkan fatwa kebenarannya dan dicontoh tindak lakunya).
Oleh karena itu jika tidak dijumpai seorang guru, hendaklah ia mencarinya hingga ketemu walaupun dengan berjalan sejauh jarak negeri Arab hingga Cina. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Allah Musa as. ketika mengarungi lautan penuh kecapaian dan letih lesu dalam rangka mencari sang Guru Nabi Allah Khidir as.
أتنا غداءنا لقد لقينا من سفرنا هذا نصبا
Berikanlah kepada kami makanan siang. Sesungguhnya kami telah menjumpai (merasa) letih dalam perjalanan ini.
Demikianlah, bagaimana kata thlabul ilmi identik dengan thalabul mursyid dan thalabus syaikh sebagai penunjuknya. Begitu pentingnya posisi seorang guru dalam pencarian petunjuk seperti yang diterangkan oleh Ibn Ruslan dalam Zubad¬-nya.
من لم يكن يعلم ذا فليسأل * من لم يجد معلما فليرحل
Barang siapa yang tidak mengetahui akan sesuatu masalah hendaklah ia bertanya. Barang siapa yang tidaj mendapatkan guru, hendaklah ia berlayar.
Kata berlayar dalam konteks syi’ir diatas adalah bepergian yang selayaknya menyertakan proses usaha keras, letih dan capek. Wallahu a’lam bis-showab.


Tinggalkan komentar

Ingat Lima Sebelum Lima

 

Sebuah keniscayaan bahwa segala sesuatu akan ada akhirnya. Buku yang kita baca ini suatu saat akan rusak dan hilang, mata yang kita gunakan untuk membaca suatu saat juga akan rabun, tangan yang kita gunakan untuk memegang buku ini suatu saat akan lemah dan kulitnyapun akan mengeriput.

Singkatnya segala yang yang ada di dunia ini akan musnah dan ada akhirnya. Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Lantas kalau demikian bagaimana kita memanfaatkan seluruh nikmat yang ada ini sebelum hilang?. Mengoptimalkan dan memanfaatkannya untuk sesuatu yang diridhai oleh-Nya itulah jawabannya.

Baca lebih lanjut