Minhajut Tholabah
you're reading...
Santri Menulis

ILMU MUKHTALIF AL-HADIS

Disusun oleh :

Mochamad Zaenur Rifqi

Alumni Pontren Minhajut Tholabah

 

  1. Pengertian Ilmu Mukhtalif Hadis

Sebelum memaparkan pengertian dari ilmu mukhtalif hadis, perlu diketahui bahwa kata mukhtalif merupakan bentuk kalimat isim fa’il dari asal kata ikhtalafa-yakhtalifu-ikhtilaf, yang berarti berselisih atau bertentangan. Kemudian, yang dikatakan mukhtalif hadis secara bahasa adalah hadis-hadis yang bertentangan antara yang satu dengan yang lain.  Sedangkan secara istilah, Dr. Mahmud al-Thahan menjelaskan secara sederhana, bahwa mukhtalif hadis adalah :

هُوَ الْحَدِيْثُ الْمَقْبُوْلُ الْمُعَارِضُ بِمِثْلِهِ مَعَ أِمْكَانٍ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا.

“Hadis makbul kontradiksi dengan sesamanya serta memungkinkan dikompromikan antara keduanya.”[1]

Para ulama ahli hadis mendefinisikan bahwa hadis mukhtalif adalah hadis-hadis yang tampak saling bertentangan satu sama lain.[2] Namun, tidak selamanya hadis-hadis yang tampak bertentangan itu memang kontradiktif, sehingga perlu diselesaikan dengan metode-metode yang ditempuh oleh para ulama hadis, seperti metode al jam’u wa al-taufiq. Mukhtalif hadis bisa juga dikatakan dengan ta’wil al-hadis, karena hadis mukhtalif diartikan dengan hadis-hadis yang sulit dipahami karena ada kata-kata janggal atau kata-kata asing (gharib).

Perlu diingat bahwa hadis-hadis yang dianggap bertentangan itu adalah hadis yang secara sanad dan matan shahih. Maka dari itu, hadis yang benar-benar lemah sanadnya tidak perlu dikompromikan dengan hadis yang jelas shahih. Hadis yang tampak mukhtalif tidak hanya terjadi antara hadis dengan hadis, bisa juga bertentangan dengan al-Qur’an, rasio, maupun ilmu pengetahuan dan sains modern. Akan tetapi, pertentangan hadis dengan itu semua bisa jadi hanya pada penginterpretasian atau pemahaman hadis tersebut.

Dalam buku Ushul Al-Hadis karya DR. Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib, Ilmu mukhtalif hadis didefinisikan sebagai berikut :

الْعِلْمُ الّذِيْ يَبْحَثُ فِي الأَحَادِيْثِ الَّتِيْ ظَاهِرُهَا مُتَعَارِضٌ فَيُزيْلُ تَعَا رُضَهَا أَوْ يُوَفِّقُ بَيْنَهَا كَمَا يَبْحَثُ فِيْ الأَحَادِيْثِ الَّتِيْ يَشْكُلُ فَهْمُهَا أَوْتَصَوُّرُهَا فَيَدْفَعُ أَشْكَالَهَا وَيُوَضِّحُ حَقِيْقَتَهَا.

Ilmu yang membahas hadis-hadis yang tampaknya saling bertentangan, lalu menghilangkan pertentangan itu atau mengkompromikannya, disamping membahas hadis yang sulit dipahami atau dimengerti, lalu menghilangkan kesulitan itu dan menjelaskan hakikatnya.[3]  Dari definisi pengertian hadis mukhtalif sebelumnya, dapat disimpulkan juga bahwa kriteria ilmu mukhtalif hadis adalah : hadis kontradiktif secara lahiriyah, hadis yang kontradiktif tersebut terjadi pada hadis yang shahih dan hasan, dan ada metode penyelesaiannya.

  1. Obyek Kajian Ilmu Mukhtalif Hadis

Dalam ilmu ini, sudah barang tentu yang dikaji adalah hadis-hadis nabi yang tampak saling bertentangan, baik dengan hadis, al-Qur’an, rasio, ataupun ilmu pengetahuan dan sains modern. Hadis tersebut dipandang dari berbagai metode yang ditempuh oleh para ulama, dari segi memadukan kedua hadis, mengkompromikannya, dan memahami perbedaan faktor yang melatarbelakanginya.

  1. Urgensi Ilmu Mukhtalif Hadis

Membaca sepintas perkataan dari as-sakhawiy menjadikan ilmu mukhtalif ini sebagai ilmu yang terpenting disamping ilmu hadis yang lain. Mengapa demikian?, karena jika seseorang yang membaca atau memahami hadis tanpa adanya bantuan ilmu ini, seseorang dapat mengatakan suatu hadis yang shahih menjadi dha’if dan sebaliknya, jika menemukan hadis yang tampaknya bertentangan. Berikut adalah perkataan as-sakhawiy : ”Ilmu ini termasuk jenis yang terpenting yang sangat dibutuhkan oleh ulama’ di berbagai disiplin. Yang bisa menekuninya secara tuntas adalah mereka yang berstatus sebagai imam yang memadukan antara hadis dan fiqh dan yang memiliki pemahaman yang sangat mendalam.”[4]

Tidak cukup bagi seseorang jika hanya menghafal suatu hadis, menghimpun sanad-sanadnya dan menandai kata-kata penting tanpa adanya pemahaman dan mengetahui kandungan hukumnya. Oleh sebab itu,  mempelajari ilmu mukhtalif hadis dituntut untuk memahami hadis secara mendalam, pengetahuan tentang ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad, dan hal lain yang mendukung jalannya pembelajaran ilmu ini. Ilmu ini lebih spesifik bertujuan untuk metode mencari klarifikasi dari hadis-hadis yang tampak saling bertentangan dengan dibantu ilmu asbab al-wurud al-hadis dan ilmu tarikh al-mutun.

  1. Metode-metode penyelesaian

Setiap perbedaan pastilah membawa hikmah. Begitupun dalam hal hadis Nabi Muhammad saw, dengan adanya anggapan bahwa hadis-hadis Nabi saling bertentangan sehingga dikatakan perkataan Nabi tersebut tidak konsisten, maka para ulama hadis termotivasi untuk merumuskan teori-teori yang dapat menyelesaikan anggapan keliru tersebut. Istilah-istilah yang banyak dijumpai dalam metode atau teori tersebut antara lain,: [5]

  1. Metode al-Jam’u wa al-Taufiq

Metode ini yaitu dilakukan dengan cara menggabungkan dan mengkompromikan dua hadis yang tampak saling bertentangan, dan kedua hadis tersebut harus sama-sama shahih. Para ulama berpendapat metode ini lebih baik daripada dengan menggunakan metode tarjih (mengunggulkan salah satu hadis yang tampak bertentangan). Dalam salah satu kaedah fiqh dikatakan bahwa “i’mal al-qaul khairun min ihmalihi (mengamalkan suatu ucapan atau sabda itu lebih baik daripada membiarkannya untuk tidak diamalkan).”[6]

Contoh hadis yang penyelesaiannya dengan metode ini adalah hadis tentang cara wudlu Rasulullah saw. Berikut contoh hadis yang pertama :

حدثنا الربيع, قال : أخبرنا الشافعي, قال : أخبرنا عبد العزيز بن محمد, عن زيد بن أسلم, عن عطاء بن يسار, عن ابن عباس, أن رسول الله ص.م وضأ وجهه ويديه, ومسح برأسه مرة مرة.

Artinya:

Rabi’ telah bercerita kepada kami, dia berkata: Imam al-Syafi’i memberi kabar kepada kami, dia berkata: Abdul Aziz Ibn Muhammad telah memberi kabar kepada kami, dari Zaid Ibn Aslam dari Atha’ ibn Yasar dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah saw berwudlu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali. (HR.al-Syafi’i).

Sedangkan dalam riwayat lain dinyatakan bahwa Nabi Muhammad saw berwudlu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala tiga kali. Seperti hadis berikut :

اخبرنا الشافعي, قال : أخبرنا سفيان بن عيينة, عن هشام بن عروة, عن ابيه, عن حمران مولى عثمان بن عفان, ان النبي ص.م توضأ ثللاثا ثلاثا.

Kedua hadis tadi secara lahiriyah memang seperti bertentangan, akan tetapi pada hakekatnya tidak. Menurut pendapat Imam Syafi’i, berwudlu dengan membasuh muka, kaki, dan mengusap kepala sudah mencukupi dengan satu kali saja, akan tetapi dengan mengulang sebanyak tiga kali lebih sempurna. Jadi, kedua hadis tersebut dapat diamalkan sesuai dengan konteks. Jika keadaan kita (terutama jumlah air) memang memungkinkan kita untuk mengulangi basuhan anggota wudlu sebanyak tiga kali, maka lebih utama mengulang basuhan sebanyak tiga kali. Kalaupun keadaan sudah terpenuhi, tetapi kita memilih mengulang satu kali, itu sudah mencukupi.

  1. Metode Tarjih

Setelah metode pertama tidak memungkinkan untuk memutuskan hadis yang bertentangan, maka diambillah metode yang ke dua ini, yaitu dengan memilih mana yang lebih unggul diantara salah satu dari kedua hadis yang bertentangan. Walaupun sebenarnya kedua hadis tersebut sama-sama shahih, akan tetapi harus dipilih hadis yang lebih berkualitas, mungkin itu dilihat dari jalur sanadnya.

Ada salah satu hadis yang benar-benar bertentangan dengan al-Qur’an, yaitu hadis tentang nasib bayi yang dikubur hidup-hidup akan masuk neraka.[7]

الوائدة والموؤودة في النار

Artinya: perempuan yang mengubur bayi hidup-hidup dan bayinya akan masuk neraka. (HR. Abu Dawud).

Melihat konteks turunnya hadis tersebut yaitu ketika Salamah Ibn Yazid al-Ju’fi pergi bersama saudaranya untuk menghadap Rasulullah saw. Dan bertanya kepada Rasulullah saw mengenai bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Rasulullah saw menjawab dengan tegas bahwa nasib bayi perempuan tersebut akan masuk neraka, kecuali jika perempuan yang mengubur bayi itu kemudian masuk islam, maka Allah swt akan memaafkannya. Hadis tersebut dinilai sebagai hadis hasan dari segi sanad menurut imam Ibn Katsir, dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Nasa’i.

Akan tetapi jika diamati lebih telisik lagi, matan hadis tersebut bertentangan dengan ayat al-Qur’an surah at-takwir :8-9

وَأِذَ الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ. بِأَىِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ.

Artinya : Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh. (QS.at-takwir:8-9).

Secara logis, orang yang mengubur bayi memang sangat berdosa dan ditempatkan di neraka, akan tetapi bagaimana dengan bayi yang dikubur, apakah harus ikut mengemban dosa dari orang yang dikubur sehingga masuk neraka, padahal setiap bayi yang lahir adalah dalam keadaan suci tak berdosa. Maka jelaslah bahwa hadis tersebut harus kita tolak, karena telah bertentangan dengan al-Qur’an dan secara logis juga tidak mendukung.

Ada riwayat lain yang menjelaskan tentang kasus tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Rasulullah saw ditanya oleh anak perempuan Mu’awiyyah al-Shamiriyyah tentang orang-orang yang akan masuk surga. Kemudian Rasulullah saw menjawab: Nabi saw akan masuk surga, orang yang mati syahid akan masuk surga, anak kecil juga akan masuk surga, anak perempuan yang dikubur hidup-hidup juga akan masuk surga. (HR.Ahmad)[8].

  1. Metode Nasikh-Mansukh

Metode ini dilakukan apabila kedua metode sebelumnya tidak memungkinkan adanya penyelesaian antara hadis yang bertentangan. Sebelum melakukan metode ini, seseorang harus tahu betul akan tarikh al-mutun hadis yang tampak bertentangan, sehingga dapat diketahui mana hadis yang datang lebih awal dan mana yang akhir. Dengan begitu, sudah pasti hadis yang datang akhir menghapus hadis sebelumnya.

Proses nasakh-mansukh dalam hadis hanya terjadi ketika Nabi Muhammad saw masih hidup. Sebab pada masa Nabi masih hidup, proses penetapan atau pembentukan syari’at sedang berlangsung pada masa itu, sehingga ada hadis yang temanya sama akan tetapi hukumnya berbeda, dan mungkin hadis yang terakhir datang setelah turunnya ayat al-Qur’an yang terkait dengan masalah di masyarakat. Para ulama hadis hanya memberikan kemudahan kepada peneliti atau orang yang belajar studi hadis dengan menamakan hal tersebut dengan nasakh-mansukh hadis.

Contoh hadis dengan metode penyelesaian ini yaitu hadis tentang wajib dan tidak wajibnya seseorang untuk mandi jinabah karena melakukan senggama akan tetapi tidak mengeluarkan sperma.[9] Hadis pertama berbunyi :

عن أبي سعيد الخدريّ عن النبي ص.م أنه قال : أِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ. (رواه مسلم وأبو داود والترمذي وغيرهم واللفظ لمسلم)

Artinya: dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw bahwa beliau telah bersabda, “Sesungguhnya air (yakni mandi janabah menjadi wajib karena) dari air (yakni keluarnya sperma tatkala bersengama)”. (HR. Muslim, Abu Daud, al-Turmudzi, dan lain-lain dengan lafal riwayat Muslim).

Berbeda dengan hadis yang kedua yaitu,:

عن عائشة قالت ……. قال رسول الله ص.م : أِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ. (رواه البخاري ومسلم وغيرهما واللفظ لمسلم).

Artinya: dari Aisyah, dia berkata:… Nabi saw telah bersabda,” Apabila (seseorang) telah duduk di atas empat anggota tubuh (isterinya) dan alat kelamin telah menyentuh (masuk) ke alat kelamin, maka sungguh telah wajib mandi janabah.” (HR.al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain dengan lafal riwayat Muslim).

Hadis yang pertama menyatakan bahwa mandi jinabah harus dilakukan oleh seseorang ketika telah melakukan senggama dan mengeluarkan sperma. Artinya jika tidak sampai mengeluarkan sperma, maka tidak wajiblah untuk mandi jinabah. Sedangkan keterangan hadis kedua, mandi jinabah harus dilakukan oleh seseorang ketika telah melakukan senggama, baik itu sampai orgasme maupun tidak. Dilihat secara tekstual kedua hadis di atas tampak saling bertentangan.

Menurut Imam Syafi’i, kata junub dalam al-Qur’an, surah an-nisa’ jika dilihat dari makna bahasa arabnya tidak membedakan antara senggama yang sampai orgasme maupun tidak. Jadi, dapat dikatakan bahwa hadis yang pertama telah dinasakh oleh hadis yang kedua setelah turunnya ayat al-Qur’an. Sehingga hadis yang dipakai adalah hadis yang kedua. Contoh lain yaitu hadis tentang nikah mut’ah.

  1. Metode Tawaqquf

Tawaqquf secara bahasa berarti mendiamkan atau menghentikan. Maksudnya adalah kita tidak mengamalkan kedua hadis yang tampak bertentangan sampai ditemukan adanya keterangan yang rasional hadis mana yang dapat diamalkan.[10] Akan tetapi metode ini kurang efektif, karena dengan mendiamkan hadis-hadis yang kontradiktif tidak akan menyelesaikan masalah.

Tawaqquf tidak bisa dilakukan lagi jika telah datang adanya keterangan melalui penelitian ilmu pengetahuan dan sains atau yang lain. Contoh dari metode ini adalah hadis mengenai lalat yang masuk dalam minuman. Nabi memerintahkan agar lalat yang masuk ke dalam minuman, supaya sekalian ditenggelamkan, karena pada sayap kanan lalat terdapat penawar penyakit yang dibawa pada sayap lalat bagian kiri. Berikut adalah bunyi hadis tersebut,:

حدّثنا خالد بن مخلد حدّثنا سليمان بن بلال قال حدّثني عتبة بن مسلم قال أخبرني عبيد بن حنين قال سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول قال النّبيّ ص.م أِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَأِنَّ فِيْ أِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً (صحيح البخاري ).

Secara nalar dan teori pengetahuan kesehatan, hadis tersebut agak bertentangan karena kurang valid. Akan tetapi, sekarang telah ditemukan penelitian yang justru menguatkan dan mendukung hadis tersebut baik dari segi sanad maupun hadis.[11] Penelitian tersebut dilakukan oleh sejumlah peneliti muslim di Mesir dan Arab Saudi dengan membuat minuman dari campuran air, madu dan juice dan dimasukkan sejumlah lalat dalam dua bejana. Ternyata hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa lalat yang kedua sayapnya ditenggelamkan tidak terdapat kuman atau mikroba dibanding dengan lalat yang hanya salah satu syapnya yang tenggelam.

  1. Tokoh-Tokoh Kajian Ilmu Mukhtalif al-Hadis dan Karyanya

Berikut adalah para tokoh kajian ilmu mukhtalif al-hadis beserta karya populernya, antara lain:

1)   . Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i (150-204H) dengan karya terbesarnya Ikhtilaf al-Hadis.

2)   . Abdullah Ibnu Qutaibah al-Dainuri (213-276H) dengan karyanya Ta’wil Mukhtalif al-Hadis.

3)   . Imam Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad al-Thahawi (239-321H) karyanya “Musykil al-Atsar”.

4)   . Abu Bakar Muhammad Ibn Hasan al-Anshari (w.406H) karyanya Musykil al-“Hadis wa Bayanuh”.

Serta karya-karya lain yang berkembang pada masa berikutnya meskipun tidak spesifik menjelaskan tentang hadis mukhtalif.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Dari sedikit penjelasan tadi, pemakalah mencoba untuk menyimpulkan beberapa poin penting, diantaranya yaitu,:

  • Hadis mukhtalif adalah hadis-hadis yang secara lahiriyah atau konteks tampak bertentangan, baik dengan hadis lain, al-Qur’an, rasio, maupun ilmu pengetahuan dan sains modern. Selain itu bisa juga hadis yang tidak bertentangan akan tetapi terdapat kata-kata janggal atau kata asing (gharib) sehingga suatu hadis sulit untuk dipahami. Sehingga diperlukan adanya penta’wilan hadis.
  • Kriteria ilmu mukhtalif hadis meliputi,: hadis kontradiktif secara lahiriyah atau tekstual, hadis yang kontradiktif tersebut terjadi pada hadis yang shahih dan hasan, dan ada metode penyelesaiannya.
  • Hadis tidak bisa dipahami secara tekstual saja, tetapi harus melihat kontekstualnya dengan dibantu ilmu-ilmu lain seperti asbab al-wurud hadis, tarikh al-mutun, dan ilmu lain yang dapat mendukung penyelesaian terhadap hadis yang tampak kontradiktif.
  • Sedikitnya ada 4 metode yang digunakan oleh para ulama hadis dalam menyelesaikan hadis yang kontradiktif, meliputi: metode al-jam’u wa al-taufiq, metode tarjih, metode nasikh-mansukh, dan metode tawaqquf.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Mustaqim, Abdul, Ilmu Ma’anil Hadis: Paradigma Interkoneksi, Yogyakarta: IDEA Press, 2008.

Isma’il, M. Syuhudi, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual, Jakarta: Bulan Bintang, 2009.

Khon, Abdul Majid, Pemikiran Modern Dalam Sunah, Jakarta : Prenada Media Group, 2011.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj, Ushul Al-Hadis Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq (penterj.), Jakarta :Gaya Media Pratama, 2007.

 

 


[1] Abdul Majid Khon, Pemikiran Modern Dalam Sunah,(Jakarta: Prenada Media Group, 2011).hlm.201.

[2] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits: Paradigma Interkoneksi, (Yogyakarta: IDEA Press, 2008).hlm.84.

[3] Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib, Ushul Al-Hadis (Terj.), M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq, hlm. 254.

[4] Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib, Ushul Al-Hadis (Terj.), M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq, hlm. 254.

[5] M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual Dan Kontekstual, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009).hlm.73.

[6] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits: Paradigma Interkoneksi, (Yogyakarta: IDEA Press, 2008).hlm.88.

[7] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits: Paradigma Interkoneksi, (Yogyakarta: IDEA Press, 2008).hlm.95.

[8] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits: Paradigma Interkoneksi, (Yogyakarta: IDEA Press, 2008).hlm.96.

[9] M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual Dan Kontekstual, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009).hlm.77.

[10] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits: Paradigma Interkoneksi, (Yogyakarta: IDEA Press, 2008).hlm.98.

[11] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits: Paradigma Interkoneksi, (Yogyakarta: IDEA Press, 2008).hlm.99.

About these ads

Tentang minhajuttholabah

Mencetak generasi yang Islami, Intelektual, berwawasan luas dan Berakhlaqul Karimah serta menanamkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah

Diskusi

Belum ada komentar.

coment......

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s